Sevens – 3rd Gen. – Chapter 3


Tujuh Agung dari Kota Cendekiawan


===|||===

“… Jadi kau tinggal di sebuah rumah?”

Setelaah membawakan barang bawaannya Miranda-san hingga ke kediamannya, aku sedikit terkejut saat melihat tempat tinggalnya.

Dimana normalnya mayoritas siswa yang belajar di sini tinggal di apertemen, dia tinggal di rumah biasa.

Untuk keluarga bangsawan yang cukup mampu, itu tidaklah mustahil, tapi itu hanyalah sebagian kecil dari mereka.

Tersenyum pahit, Miranda-san tampak agak kesulitan.

“Lagipula, meski seperti ini, aku putrid tertua. Aku tak begitu berguna bagi Keluargaku, tapi aku rasa kau bisa menyebutnya harga diri? Untuk alasan itulah, mereka membelikanku rumah. Di saat aku sudah lulus, itu mungkin akan dijual ke orang lain.”

Meskipun mereka mengijinkan putrid tertua Circry belajar di kota cendekiawan, mereka tak mungkin membiarkannya tinggal di apartemen biasa.

Mendengar itu, Kelima bicara.

『Yah, harga diri itu sendiri memang penting. Dan juga, kalau mereka membelinya, dan mereka akan menjualnya nantinya, aku rasa tak banyak yang perlu mereka khawatirkan. Daripada itu, Lyle… bagaimana reaksi dari Skill?』

Kelima tetap waspada, dan aku diam-diam mengaktifan Skill.

Skill Keenam menunjukkan Miranda-san sebagai sekutu.

Sekutu ditunjukkan dengan warna biru.

Orang yang tak berhubungan, atau mereka yang tidak menganggapku apa-apa adalah kuning.

Dan mereka yang berniat buruk padaku atau monster ditunjukkan dengan warna merah.

Sepertinya Miranda-san tidak ada niat buruk.

(Apa aku terlalu berpikir yang tidak-tidak?)

Saat aku memikirkan itu, Kelima bicara.

『Jangan lengah. Mungkin ada alasannya semua pembantunya berhenti… hei, cepat masuklah.』

Membawa belanjaan, aku mengikuti Miranda-san, yang masuk duluan.

Rumah ini memiliki halaman, dan gedungnya itu sendiri berlantai dua.

Dari luar, aku bisa lihat kalau rumah ini pasti punya banyak ruangan.

“Tidakkah ini terlalu luas untuk ditinggali sendirian?”

Setelah aku mengatakan itu, ekspresinya Miranda-san sedikit mendung.

(Aku penasaran ada masalah apa.)

Tapi dia segera tersenyum, dan menggelengkan kepala.

“Aku punya adik. Keluarga kami ada empat bersaudari, tapi adik bungsu… matanya bermasalah. Aku datang ke kota ini karena aku ingin menyembuhkannya.”

Miranda-san dating ke kota ini demi adiknya.

Mungkin terdengar mengharukan bagiku, tapi pendapat para leluhur justru buruk.

Menurut Kedua…

『Eh~ nggak masuk akal. Putri sulung tak seharusnya melakukan sesuatu semacam itu. Apalagi, kau bangsawan imperial, kan? Pergilah menikah sana.』

Ketiga juga sama.

『Kisah yang mengharukan, tapi aku rasa dia punya motif lain.』

Keempat sedikit memperhatikannya.

『Aku rasa dia gadis yang baik, tapi orang tuanya yang salah membiarkannya pergi. Putra atau putri tertua itu yang paling penting, kan? Dari penampilannya, dia cantik, dan mudah bergaul, jadi mereka seharusnya menikahkannya ke keluarga lain untuk koneksi.』

Kelima dingin.

『Putri bungsu matanya bermasalah? Kalau begitu bukankah itu hanya cara keluarganya untuk mengusirnya? Putrid sulung hanya ikut untuk merawatnya, dan dia mungkin hanya asal beri alasan. Yah, mungkin dia sendiri memang serius, tapi.』

Keenam.

『… Peduli pada adik itu bagus. Akur dengan adik itu bagus.』

Mengingat pembicaraan canggung kami sebelumnya, mungkin berbagai hal terjadi antara Keenam dan adik-adiknya.

Aku sedikit bersimpati pada Keenam, dan kemudian mendengar pendapat Ketujuh.

『Tidaklah jarang untuk keluarga menjauhkan anak yang bermasalah. Di waktuku ada banyak rumor soal penyekapan, dan ‘kematian wajar’. Meskipun rumor-rumor aneh juga beredar meskipun itu benar-benar wajar.』

Dingin sekali mereka.

Aku mengingatkan diriku sendiri agar bisa bersimpati.

(Dia orang yang baik.)

Sikapnya yang mau berusaha keras demi adiknya sangatlah berbeda dari adikku Celes.

(Aku agak iri, aku ingin saudari seperti ini. Kalau aku punya, mungkin sedikit berbeda… tidak, aku rasa itu takkan berubah. Itu akan hanya menambahkan jumlah orang yang dingin padaku.)

Monster yang bisa mengubah sekelilingnya.

Bahkan orang tuaku yang baik tak pernah memandangku sama sekali.

“Kisah yang menyentuh. Aku harap aku punya kakak sepertimu.”

Setelah aku memujinya, dia mulai mendorongku.

“Oh! Jadi kau sudah mengincarku? Yah, aku agak ragu apakah aku kakak yang baik atau tidak. Apa kau punya saudara, Lyle-kun?”

Aku bersikap seakan biasa, tapi sebenarnya gelisah selagi aku member jawaban singkat.

“Punya… satu adik perempuan.”

Aku tak tahu apakah dia bertanya untuk suatu hal, atau dia memang hanya bertanya.

Aku tak bisa memastikan hal semacam itu, tapi Skill terus menunjukkan dia biru.

“Adik perempuan bagus, kan! Mereka menggemaskan!”

“B-benar.”

Sementara aku memaksakan diri untuk mengikuti percakapan, mungkin merasakan sesuatu, dia tidak bicara lebih jauh lagi.

Mungkin saja dia menebak situasi.

Aku mengikutinya ke dapur, dan meletakkan belanjaan di meja.

Dari apa yang kulihat dari rumah ini sejauh ini, rumah ini dikelola dengan cukup baik.

Disamping fakta adanya pegangan dimana-mana, ini cukup standar.

“Aku dengar kau tak punya pembantu, tapi ini cukup bersih.”

“Ahaha… itu karena mereka baru berhenti dua hari lalu.”

Artinya sejak hari itu, dia tak punya pilihan selain membersihkannya sendiri.

Setelah kelas dan tugas akademik selesai, dia akan melakukan pekerjaan rumah.

Aku ingin menanyakan alasan kenapa pembantunya berhenti, tapi merasa itu berlebihan, aku tak melakukannya.

“Tapi, dengan rumah sebesar ini, pasti cukup merepotkan untuk membersihkannya.”

Di rumah aku tinggal di Dalien sebelumnya, Novem memastikan rumah bersih dan rapi.

Memikirkan hebatnya Novem, setelah melihat rumah beberapa kali lebih besar dari itu dan hanya ditinggali dua orang gadis…

Aku jujur berpikir itu akan cukup merepotkan.

“Memang. Tapi aku sudah terbiasa…”

Sepertinya Miranda-san juga punya kesulitannya juga.

Kemudian…

“Onee-sama, apa ada tamu?”

Aku berbalik dan menemukan seorang gadis berdiri di sana. Dia berdiri sambil memegangi dinding, tapi aku merasa gelisah berusaha memastikan apakah matanya benar-benar menatap kami atau tidak.

Ketiga bicara.

『Bukankah ini si adik yang tuna netra itu?』

Gadis, yang masih cukup kecil itu, memiliki rambut ungu pucat. Dan ikalnya mirip Miranda-san.

Mata emasnya menatap kea rah kami, tapi karena masalah penglihatannya, aku merasa matanya tidak focus pada kami. Dia meraba-raba udara selagi dia mendekati kami, tapi Miranda-san bergegas menghampirinya.

“Shannon! Aku sudah bilang tetaplah di kamarmu.”

“Maaf, onee-sama… daripada itu, apa ada tamu? Laki-laki?”

Mungkin dari percakapan, atau suasana, dia merasakannya.

Aku mencoba memperkenalkan diri. Untuk mengetes Miranda-san, aku juga mencoba memberikan nama keluargaku.

Aku tetap menggunakan Skill untuk melihat apakah ada perubahan.

(Apa yang akan terjadi? Apakah dia akan waspada?)

“Senang bertemu denganmu, nona. Aku Lyle Walt. Temannya Aria, aku kebetulan bertemu kakakmu, dan membantu membawakan belanjaannya, dan sekalian mampir.”

Aku mengatakan itu dengan pura-pura senyum.

Kelima dan Keenam bereaksi setelah melihat gadis bernama【Shannon】ini.

『Ini…』

『Aku bertanya-tanya apakah ini yang namanya darah.』

Aku penasaran dengan reaksi mereka, tapi aku tak bisa bertanya, jadi aku terus mengamati kedua bersaudari.

Shannon melihatku, dan baru disitu aku merasa kalau aku sebenarnya diawasi.

“… Jadi begitu…. Terima kasih banyak Lyle-san. Aku Shannon Circry. Adiknya Miranda onee-sama. Maaf, mataku agak kekurangan, jadi aku sedikit tidak sopan…”

Shannon menundukkan kepalanya, dan Miranda-san memanggilnya.

“-T-tidak apa-apa, Shannon! Lyle-kun bukan orang yang memikirkan hal semacam itu.”

Mengatakan itu, dia menengokku, jadi aku mengangguk.

“… Tidak apa-apa.”

Saat aku mengatakan, aku tersenyum padanya.

Untuk hanya sesaat, tanda indicator biru Shannon berubah menjadi kuning, dan kemudian merah, tapi segera kemudian membiru sekali lagi.

Miranda-san tidak berubah sama sekali.

Yang bereaksi saat mendengar nama Keluarga Walt adalah Shannon.

===|||===

Sambil minum the di dapur, aku menunggu Miranda-san kembali setelah mengantar Shannon ke kamarnya, dan kemudian aku menanyakan soal kota Arumsaas.

Yang kudengar darinya utamanya adalah soal akademi.

Karena saat ini dia pelajar aktif, mungkin dia memiliki ketertarikan yang berbeda, tapi aku bisa mendapatkan informasi yang berbeda darinya dibandindingkan dari Clara.

“Tujuh agung dari akademi? Apa mereka orang hebat?”

Saat aku menanyakan soal『Tujuh Agung dari Akademi』, dia tertawa kecil.

Dia menyebut dalam penjelasannya, jadi aku penasaran, tapi sepertinya mereka tidak seperti yang kupikirkan.

“Mereka memang hebat, tapi mereka bukanlah tipe orang yang mungkin kamu pikirkan. Mereka orang-orang yang luar biasa dalam sejarah akademi sejak pertamakali dibuka. Ada bahkan yang sudah lama meninggal diantaranya, dan aku rasa ada sekitar tiga yang tersisa sekarang? Salah satunya sudah pensiun, jadi aku rasa hanya ada dua yang tersisa di akademi.”

Sejak awal akademi, tujuh anak bermasalah yang mengangkat nama mereka disebut sebagai tujuh agung, sepertinya.

“Apa mereka hanya anak bermasalah?”

Setelah itu, Miranda-san menabahkan.

“Mereka normalnya cukup genius. Mungkin karena mereka terlalu genius lah, akademi jadi sangat kerepotan. Beberapa dari mereka adalah penyihir kelas-satu, dan pencapaian yang mereka tinggalkan mengagumkan… hanya saja mereka tidak punya kendali-diri dalam beberapa hal.”

Dan itu disebut jenius?

Mereka mungkin memiliki nalar yang berbeda dari orang biasa, dan itu menjadi kesalahpahaman.

“Orang seperti apa mereka?”

“Satu yang kukenal menjadi professor di usia muda, 【Damien Valle】. Yang satunya berada di keanggotaan kongres kota cendekia, jadi aku tak pernah bertemu. Damien Valle…『Damien si Pengguna Boneka』.”

Dengan julukan seperti itu, dia mungkin memang orang yang luar biasa.

Aku menanyakan tentangnya.

“Dia aneh, tapi dia cukup piawai, dan keahliannya adalah dalam penggunaan sihir yang bernama【Golem】, aku dengar. Skill pribadinya juga berdasarkan pengendalian Golem sepertinya, tapi intinya, dia adalah orang yang berhasrat pada risetnya. Karena dia professor, dia pengajar, tapi meski begitu, dia lebih memperdulikan risetnya, dan dia pun menerima hukuman dari atasan beberapa kali. Sekarang, dia memang mengajar, tapi dia terkenal tidak termotivasi dalam mengajarnya.”

Merepotkan sekali.

Dia mahir, tapi dia terlalu ulet, dan malah jadi cukup merepotkan.

“Kalau begitu kenapa dia tidak menjadi peneliti biasa saja?”

“… Sebagai professor, dana risetnya cukup besar. Itulah kenapa dia melakukan itu sepertinya,… tapi isi risetnya agak sedikit tidak manusiawi, jadi dia tak bisa berhenti dari posisinya begitu saja, soalnya, masuk akal dia takkan mendapatkan dana jika berhenti.”

Riset macam apa yang dia lakukan sebenarnya?

Saat aku memikirkan itu, Miranda-san wajahnya agak tersipu sambil dia menjelaskan.

“Itu… apa kamu tahu soal boneka otonom? Bukan yang dibuat dengan alat magis, tapi eksistensi mirip manusia yang dibuat dengan teknologi kuno. Dia berencana untuk membangkitkannya kembali, sepertinya.”

“Tidak dibuat dengan alat magis? Itu cukup langka di jaman ini, maksudku… apa boneka otonom artinya mereka boneka yang bisa bergerak sendiri? Dengan semacam permesinan jam[TLnote: clockwork]?”

Apa yang kubayangkan adalah cara kerja mesin jam.

Tapi Miranda-san menyangkalnya.

“Itu agak… itu salah satu alasan dia dikenal aneh, tapi apa yang dia ingin buat adalah manusia itu sendiri. Menurut orangnya sendiri, dia ingin『Menciptakan Wanita Ideal』.”

Bahkan aku terkejut untuk itu.

Aku berpikir dia agak terlalu jujur pada hasratnya, tapi aku juga berpikir itu adalah scenario impian bagi laki-laki.

Hanya saja…

(Yah, aku cukup dengan Novem.)

“Orang yang tidak biasa memang. Apa tak ada yang berusaha menghentikannya?”

“Ini boneka otonom kuno, kamu tahu? Kalau dia berhasil dalam memproduksinya kembali, maka kota cendekia bisa mengharapkan cukup banyak keuntungan. Dan, dia adalah genius dalam bidangnya, jadi jika dia tidak bisa, maka kemungkinannya mustahil untuk selamanya, sepertinya. Hasratnya tidak bisa diremehkan. Dia memang layak disebut salah satu tujuh agung, kata semua orang.”

Aku mengerti dia bukan seseorang yang aku ingin punya hubungan.

“Hanya saja, atasan enggan melihat dia berhasil atau tidak. Jadi dia menjadi professor tanpa pendanaan penuh. Meskipun mereka tidak se-berhasrat dia, ada banyak yang ingin mempelajari sihirnya Damien, jadi dia cukup popular juga.”

(Baik, jangan pernah menerima request orang itu kalau ada.)

Melihat jam di ruangan, aku merasa aku sudah terlalu lama di sini. Akan buruk kalau aku merepotkannya lebih jauh, jadi aku memutuskan untuk pulang.

“Maaf membuatmu bicara begitu lama. Aku rasa sampai sini saja.”

“Ah, sudah waktunya ya. Maaf, soalnya sudah lama sekali sejak aku berbincang-bincang seperti ini.”

Dia bersekolah, dan di rumah, adiknya, dan pekerjaan rumah menunggunya.

Sepertinya itu cukup menghabiskan waktunya.

Kenapa dia tidak mempekerjakan pembantu? Aku memikirkan itu, tapi aku tak ingin ikut campur, jadi tak mengatakan apa-apa.

Tapi aku penasaran pada Shannon, yang menunjukkan sikap buruk untuk sesaat.

Kami berdiri dari kursi bersamaan, tapi dia tiba-tiba berekspresi seakan dia baru saja teringat sesuatu.

“Ah, benar juga!”

“… Ada apa?”

===|||===

Setelah kembali ke penginapan, aku memanggil Novem dan Aria, yang sebelumnya mendatangi agensi properti.

Setelah selesai makan malam, sebelum kami stirahat, aku memberitahu mereka kejadian hari ini.

Aku memberitahu mereka soal usulannya Miranda-san.

“… Kau yakin?”

Ekspresi Aria serius.

“Aku rasa lebih baik melakukan sepertti yang Lyle-sama inginkan.”

Melihat senyumnya Novem, aku mengingat makan siang-ku dengan Clara.

(Sial! Gara-gara Keempat mengatakan hal semacam itu, aku jadi merasa bersalah.)

Kalau dia tahu aku tadi makan siang dengan seorang gadis, apa yang akan Novem pikirkan?

Aku berusaha menghindari topic itu, dan memberitahukan informasi soal petualang yang aku dapat sebagai bagian dari informasi yang kudapatkan dari Miranda-san.

Dan topic terakhir yang kubicarakan adalah…

“Miranda-san serius. Dia bilang dia akan senang dengan adanya kita di sana, sepertinya. Dia gelisah karena hanya tinggal sendirian dengan adiknya, dan kalau itu Aria, maka dia sudah mengenal Shannon, dia bilang.”

Itulah usulannya, kalau kami belum menemukan tempat tinggal di Arumsaas, datang saja ke rumahnya.

Dari sudut pandangku, aku tak yakin apakah tidak apa-apa aku tinggal di sana.

Meskipun ketertiban umum baik, tapi tetap saja bahaya.

Miranda-san bilang akan lebih menenangkan kalau ada laki-laki di rumah.

Aku mengkhawatirkan soal reaksi Shannon sebelumnya, tapi Kelima dan Keenam mengijinkan soal ini.

Dan yang lainnya menentang.

Dan karena itulah, aku menyerahkan keputusan pada Novem dan Aria. Itu membuat mereka tenang.

“Aku agak menentangnya. Miranda-sa dan… Shannon-chan? Sebagai laki-laki, aku rasa akan aneh aku tinggal bersama mereka. Hanya saja sewa kita adalah bersih-bersih dan mencuci, artinya kita akan mengurusi pekerjaan rumah. Meskipun dia bilang dia tidak masalah kalau kita sibuk.”

Aku berterimakasih kalau bisa tinggal di sana hanya dengan mengurusi pekerjaan rumah tangga.

Mereka memang punya kamar kososng, jadi pengeluaran kami sebenarnya adalah soal makan, aku rasa? Miranda-san bilang tidak perlu, tapi aku sangat tidak enak kalau mengharuskannya sampai sejauh itu.

Aria terkejut.

“Hanya mereka berdua? Bagaimana dengan pembantu mereka?”

“Entahlah. Apa kau pikir aku berhak menanyakan soal itu? Kenapa mereka berhenti? Dia bilang mereka selalu berhenti, jadi aku rasa ada suatu masalah…”

Tapi melihat Miranda-san, aku tak melihat ada masalah.

Yang membuatku waspada adalah Shannon.

(… Jangan-jangan…)

Aria berkata setuju.

“A-aku setuju saja. Kita takkan perlu mengkhawatirkan banyak hal, dan semacamnya…”

Pada sikapnya yang tiba-tiba berubah, Kedua tidak suka.

『Gadis ini tiba-tiba mengubah pendapatnya begitu saja.』

Ketiga tertawa.

『Kau benar-benar tidak suka pada Aria-chan ya, Kedua. Meskipun aku pribadi menentang soal ini, sepertinya Kelima dan Keenam punya pertimbangan sendiri, jadi aku rasa tidak masalah mengikutinya. Yah, semua tergantung Lyle, tetap saja.』

Keempat…

『Kau tak peduli selama kau bisa ke perpustakaan, kan?』

Kelima bicara.

『Kalau bisa, aku ingin kau menerima usulan Miranda. Dari sudut pandangku, dia juga keturunanku, dan dia lebih baik dibandingkan lainnya, aku rasa?』

Keenam berkata padaku.

『Lyle, kau mungkin tak peduli pada kata-kataku, tapi aku ingin kau menerima tawarannya. Aku tak merasa ini ada keterlibatan Keluarga Walt, tapi ada sesuatu yang membuatku tidak enak.』

Hal yang mengkhawatirkan mereka adalah sesuatu yang tidak Kelima atau  Keenam katakan.

Daripada tinggal di penginapan, tinggal di rumah adalah sesuatu yang membuatu bersyukur, secara finansial.

“Bagaimana denganmu, Novem?”

Setelah kutanya, dia berpikir untuk sesaat, sebelum merespon.

“Miranda-san, ya? Adiknya bersamanya, tapi matanya kekurangan… Aku harus memastikannya. Aku mengerti. Kita coba tinggal bersama agar aku bisa membuat penilaianku.”

Ada sesuatu soal jawabannya yang membuatku bingung.

“Penilaian apa?”

“Eh? Seperti yang kukatakan, untuk melihat apakah mereka layak untuk masuk ke haremnya Lyle-sama. Soalnya, sepertinya kamu lebih suka dada besar.”

Pada kesalahpahaman Novem, Aria bereaksi.

Tunggu dulu, ini pertama kalinya aku tahu kalau aku dianggap penyuka dada besar.

“Kau! Kau masih saja memikirkan hal-hal semacam itu!? Padahal kau bilang kau tak ada hubungan, atau tak tertarik pada hal-hal semacam itu!”

Aku segera memperbaiki kesalahpahaman ini.

Novem malah tertawa kecil di sisi lain.

“S-salah! Itu jelas salah! Lagipula, yang mengusulkannya adalah Miranda-san, dan aku tak ada hubungannya! Novem, katakan sesuatu!”

Meletakkan tangan di pipi, dan memiringkan kepalanya, Novem bicara.

“Bagaimana ya, kalau mereka berhasil lolos penilaianku, maka itu bagus untukmu, Lyle-sama.”

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan dan menjerit.

“ITU SALAAAAAAAAH!!!”

Dan, Keempat menggumam.

『Novem-chan… apa kau yakin dia tidak melakukan ini dengan sengaja saat ini?』

Aku tak ingin percaya kalau Novem sebenarnya cukup gelap dibaliknya, jadi aku tak bisa menerima pendapatnya Keempat.

Novem gadis yang baik. Pasti!

===|||===


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s