Sevens – 2nd Gen. – Chapter 9


Senjata Generasi Pertama


===

Skil milik Kedua adalah, sederhananya, kemampuan untuk memberikan orang lain hak untuk menggunakan Skil-mu sendiri.

Spesifiknya menjadi sedikit lebih rumit, tapi penjelasan sederhananya adalah sekutu dalam jarak tertentu dariku bisa menggunakan Skil yang kumiliki.

Full Over milik Pertama.

Speed milik Keempat.

Skil yang membuat kondisi dimana orang lain bisa menggunakan Skil mereka kapanpun mereka mau… Itulah【All】milik Kedua.

Hanya saja, Mana yang aku perlu habiskan untuk menggunakannya luar biasa rendah.

Maksudku, itu hanya memungkinkan orang lain menggunakan milikmu sendiri, dan selama mereka tidak menggunakan apapun, itu adalah pengeluaran yang sangat sedikit pada bagianku.

Tapi karakteristik terkuat Skil-nya adalah kemampuannya untuk membedakan musuh dan sekutu dalam jarak tertentu.

Tempat dimana  pepohonan menjadi berjajar, dan membuat area seperti-ruangan.

Pintu masuknya cukup besar untuk satu orang telah terhempas, dan di pecahan kayu yang berceceran, berdiri Bos yang seharusnya berada di【Ruang Terdalam】.

Bahkan sebagai orc, itu berkulit merah, dan rambutnya tebal. Rambutnya tumbuh hingga menutupi punggungnya.

Orc yang seperti-ogre itu mengayun-ayunkan pedang besar yang dulu milik petualang yang dibunuhnya.

Saat dipegang oleh monster itu, itu tampak seperti hanya sebuah pedang berukuran normal.

Mungkin berusaha mengancamku selagi aku mengangkat sabre-ku ke arahnya, monster itu mengeluarkan raungan.

Di sekitarku adalah para kamerad(TLnote: comrades) yang menantang labirin ini denganku. Novem, Aria, Zelphy-san, Rondo-san, dan Rachel-san… mereka berlima bergidik(TLnote: flinched) untuk sesaat setelah mendengar teriakan perang itu.

Maksudku, itu memang sebegitu kerasnya.

Sekarang orc itu berada di dalamnya, ruangan yang lebarnya sedikit sempit itu mulai terasa sangat sempit.

Tapi aku bisa memahami kondisi orc saat ini hingga batas tertentu.

(Aku bisa mengerti kenapa Kedua ragu-ragu untuk mengijinkanku menggunakannya. Karena, ini benar-benar terlaku kuat.)

Terus terang, efek asli Skil-nya dimana untuk memungkinkan penggunaan Skil bagi orang lain… kekuatannya lebih kurang daripada efek tidak langsungnya.

Seakan mereka dipanggil oleh teriakan orc merah itu, monster-monster yang berkeliaran di sekitaran labirin mulai berkumpul di sekitar ruangan kami berada.

Zelphy-san berdiri di depanku.

Tidak, dia mengangkat tamengnya, jadi dia mungkin mengambil peran Perisai untuk seluruh kelompok.

Hanya saja untuk melawan orc merah ini, aku tidak berpikir kekuatan Zelphy-san cukup.

“Aku akan lawan si merah ini. Kalian urus lainnya yang memasuki ruangan.”

Saat aku mengatakan itu pada semuanya, Rondo-san mengeluarkan suaranya.

“Apa kau tahu apa yang kau katakan!? Musuh itu tidak normal. Itu akan terbaik kalau kita semua mengeroyoknya!”

Meskipun itu pendapat yang masuk akal, ini bukan waktunya untuk menunda tindakan melawan monster di depan kami.

“Yeah, aku juga maunya begitu, tapi kita tidak benar-benar punya waktu… lihat, mereka datang!”

Saat aku mengatakan itu, Goblin-goblin mulai memasuki ruangan.

Selagi mereka dari belakang orc itu, Novem menggunakan sihirnya.

Wind Bullet.”

Goblin-goblin itu terhempas di udara, dan mereka menabrak dinding.

Di saat yang sama, aku menghunus sabre cadanganku, dan mulai berlari ke arah orc merah itu.

Orc itu mengangkat pedang di tangannya, dan menurunkannya padaku.

“Itu benar-benar Skil yang cukup bagus.”

Menggunakan momentumku, aku membungkuk dan melompat. Pedang yang turun menancap ke permukaan tanah di belakangku.

Aku berakhir di tempat diantara orc itu dan senjatanya.

Menggunakan sabre di kedua tanganku, aku menyayat kedua lutut orc itu.

“Terlalu dangkal? Lebih dari yang kupikirkan… tidak.”

Saat aku mempertimbangkan apakah kulit orc itu lebih keras dari yang kupikirkan, aku melihat lututnya sembuh di hadapanku.

Aku segera melompat ke kirinya, selagi tinju kirinya menganai permukaan tanah di mana aku sebelumnya berada, dan mencongkelnya. Sebuah kawah kecil terbentuk.

Selagi aku berguling untuk berdiri dari terjanganku, sebuah suara memanggilku.

“Lyle-kun!”

Itu adalah suara Rondo-san.

Melihat goblin datang padaku dari belakangku, dia segera menaikkan suaranya.

Tanpa berbalik, aku menusukkan sabre-ku ke belakang, dan berdiri.

Darah goblin mulai menghujani kepalaku.

“Ah, aku tak bisa melihat.”

Selagi aku menggumamkan itu, beberapa beraksi dengan bergegas ke arahku.

Itu adalah Novem, Aria, dan Zelphy-san.

Juga, melihat kesempatan bagus, monster-monster di sekeliling mulai mengincarku.

Aku mengayunkan kedua pedangku, dan berbalik selagi aku bergerak-gerak di sekeliling ruangan.

Setiap kali aku mengayunkan pedangku, darah terciprat ke tanah.

Saat aku akhirnya bisa menggunakan lengan bajuku untuk mengusap mataku, aku bisa mengkonfirmasi situasinya.

“Jadi bahkan saat dibutakan, aku bisa melakukan sebanyak ini?”

Menggunakan pedang-pedangku, aku menghindari dan menebas monster yang datang padaku.

Di mana semua orang berada, dan seperti apa kondisi mereka… itu adalah Skil milik Kedua yang memungkinkanku memahami semua sekelilingku. Itu berbeda dari Skil milik Kelima dan Keenam dalam titik esensial.

Kelima bicara dengan beberapa nostalgia.

『Aku cukup banyak dibantu Skil ini, tapi seperti yang kupikirkan, efek sampingnyalah bagian yang lebih mengagumkan. Skil-ku memberimu pandangan yang jauh lebih besar, dan itu tidak cocok untuk pertarungan melee(TLnote: jarak dekat) semacam ini, tapi.』

Keenam setuju.

『Benar. Itu biasa saja, tapi cukup profisien. Ada cukup banyak operasi militer(TLnote: campaign) yang aku bisa selamat karena aku punya Skil milik Generasi Pertama dan Kedua.』

Aku minta maaf kalau kalian ingin sedikit bernostalgia, tapi aku benar-benar menginginkan beberapa pada bagaimana mengalahkan musuh di hadapanku saat ini.

“Aku mendengar bahwa serangan tidak berhasil, tapi itu kelihatannya menyembuhkan diri. Kalau kau terus menyerangnya, itu akan pada akhirnya kehabisan Mana dan tumbang, tapi… rasanya staminaku akan habis lebih dulu.”

Kalau itu hanya aku, aku rasa aku akan bisa entah bagaimana, tapi saat ini, aku punya kamerad.

Yang pertama akan tumbang mungkin Rachel-san, yang menjaga ruangan tetap terang, atau Novem, yang menggunakan sihir ofensif untuk menyokongku setelah dia sendiri menyembuhkan semua petualang itu.

Setelah itu, Aria mungkin akan jatuh, dan kemudian mungkin Zelphy-san.

Terakhir, mungkin bahkan Rondo-san takkan bisa mengalahkan orc ini.

(Karena orc itu meengalahkan seorang petualang veteran untuk mengalami sebuah perkembangan, orc itu menjadi semakin merepotkan. Jadi monster bisa berkembang, dan mendapatkan Skil juga… apakah fakta bahwa Skil adalah berkah dari dewa bagi manusia adalah kebohongan?)

Aku menurunkan mataku pada sabre di kedua tanganku, dan mundur ke belakang. Di depanku, pedang orc itu diturunkan.

Sepertinya orc itu tidak tahu bagaimana menggunakan pedang.

Dengan ini, orc itu mungkin sebenarnya akan lebih baik kalau menggunakan gadanya.

“Kikisan di sabre cukup buruk. Senjataku akan rusak lebih dulu. Kalau aku menjatuhkannya dalam satu pukulan, akankah sihir diperkuat oleh Skil yang terbaik?”

Aku berusaha mencapai sebuah kesimpulan di dalam pikiranku, tapi aku merasa itu tidaklah cukup.

Karena yang lainnya melawan monster-monster yang membanjiri ruangan, itu akan membutuhkan beberapa waktu sebelum aku akan bisa meminta bantuan dari mereka.

Karena itu melawanku, orc merah itu tidak menyerang yang lain. Kalau seseorang memang datang untuk membantuku, mungkin orc itu akan mengubah targetnya.

“Aku benar-benar benci bertaruh, padahal… kalau begitu, bagaimana aku harus menjatuhkannya…”

Dengan serangan terkuatku, aku harus entah bagaimana menjatuhkan monster ini dalam satu serangan.

Aku perlu menentukan Skil apa yang dimiliki orc itu, dan aku bisa memahami mayoritas sekelilingku dengan Skil Kedua. Stamina dan Mana… Karena aku bisa merasakan hal-hal semacam ini secara intuitif sekarang, gaya bertarungku harus berubah untuk menyesuaikan dengannya.

Pertama…

『Hei, tidakkah Skil-mu sedikit terlalu kepengecutan?』

Kedua membentak.

『Apa yang kau maksud kepengecutan!? Itu Skil yang memudahkan(TLnote: convenient)! Itu sebegitu memudahkannya hingga dia mungkin mulai bergantung padanya, jadi aku hanya tidak mengijinkan Lyle menggunakannya dulu!』

Itu rasanya seperti aku telah mendapatkan beberapa indera baru, tapi rasanya menggunakan semuanya akan membutuhkan terlalu banyak waktu.

Rasanya bukan Mana-ku, tapi kelelahan mentalku yang akan meletihkanku.

Aku terus menghindari serangan si merah itu, selagi aku berpikir.

Di sana, orc merah itu dengan anehnya mundur selangkah. Itu mengeluarkan suaranya, dan dari dinding ruangan… celah diantara pepohonan, satu orc normal berkulit-warna jamrud muncul.

“Dia memanggil sekutu!?”

Aria mengeluarkan suara terkejut, dan Rondo-san mendekati Rachel-san demi melindunginya.

Zelphy-san juga berdiri di depan Novem dan Aria.

“Lyle, berapa lama kami harus bertahan!?”

Mendengar suara Zelphy-san, aku mendongak(TLnote: looked up), dan berpikir sejenak.

“Ini akan segera berakhir, jadi tolong tahan itu untuk sesaat lagi.”

Aku mengatakan itu.

Mendengar kata-kataku, Pertama tertawa keras.

『Bagus, Lyle! Benar. Di saat seperti ini, laki-laki harus terlihat keren! Bagus! Aku akan mengajarimu sesuatu yang istimewa…』

Pada ucapan Pertama, Kelima tampak sedikit gelisah.

『Oi, apa yang kau pikirkan? Itu jauh terlalu cepat, bukan?』

Untuk kedua orc yang muncul di kedua sisi orc merah, aku sementara mengaktifkan Limit Burst, dan melempar sabre di tanganku pada mereka.

Sabre itu berputar di udara sebelum mendarat di tengkorak kedua orc itu.

Kedua orc itu membuka rahang mereka karena benturan itu, dan tumbang ke tanah.

Melihatku kehilangan senjataku, orc merah itu meraung.

“Aku bertanya-tanya apakah aku bisa menjatuhkannnya dengan sihir… hanya nyaris(TLnote: barely), mungkin.”

Aku rasa itu mungkin, tapi hanya nyaris. Ada juga kemungkinan itu tidak cukup, jadi aku harus mempertaruhkan semuanya pada satu serangan.

(Kalau aku tak bisa mengalahkannya, maka aku bisa coba menyerangnya dengan tangan kosong, aku rasa.)

Untuk sesaat, aku berpikir itu sangatlah aneh untuk sebuah pemikiran yang seperti-Pertama terlintas di pikiranku.

(Perasaan apa ini… itu tidak buruk.)

Selagi aku memikirkan sesuatu seperti itu, Pertama bicara.

『Oi, genggam Jewel-nya.』

“Apa yang kau pikirkan?”

Mereka di sekitar sibuk melawan monster, jadi mereka mungkin takkan mendengar pembicaraanku dengan Pertama.

『Aku akan mengajarimu sesuatu yang menyenangkan. Itu akan menjadi suatu berita bagus untuk dirimu saat ini… Maksudku, kau akan bisa menggunakan trik yang Ketujuh secara pribadi siapkan.』

“Ketujuh… kakekku?”

Aku menangguhkan menggunakan sihir, dan menggenggam Jewel seperti yang diperintahkan.

Ketujuh mulai membentak pada Pertama.

『Kenapa kau memberitahunya!? Itu terlalu cepat! Dengan Mana-nya Lyle, dia benar-benar akan hanya bisa mempertahankannya untuk beberapa detik saja!』

Pertama membentak balik.

『Beberapa detik? Itu lebih dari cukup, bukan!? Kalian, diriku ini… siapa yang berkata bahwa Lyle luar biasa!? Aku mengakui dia! Tak ada yang akan menghalangiku! Sekarang ayo, Lyle!』

Jewel itu memancarkan cahaya biru, dan rantai yang melingkar di leherku terlepas dengan sendirinya.

Ornamen perak yang menyelimuti permata itu mulai berubah bentuk di tanganku.

“Ini…”

Sepertinya yang lain penasaran dengan situasiku juga. Dengan ledakan sihir dari Novem, area itu tertutupi oleh asap.

Merasakan berat yang tak pernah sebelumnya dari Jewel, item yang sebelumnya itu… tidak, aku menggenggam ornamen perak yang aku pikir tak lebih dari hiasan untuk memperindah Jewel itu.

Aku menggenggam gagangnya dengan kedua tangan, dan bilah peraknya memancarkan cahaya pudar. Sebuah pelindung(TLnote: guard, maksudnya alat untuk mencegah cedera/luka) dengan permata biri tersemat di dalamnya… Jewel itu bersinar.

『Keahlian pedangku tidak terlalu hebat. Jadi senjata menyerang semacam ini paling baik bagiku.』

Apa yang tanganku genggam adalah sebuah pedang perak tebal.

Pertama berteriak.

『Tak ada waktu, kan!? Cepat lakukan!!』

Seakan suara itu mendorongku ke depan, aku berlari ke depan, dan mengambil sebuah lompatan besar. Aku memutar tubuhku untuk menghindari pedang yang diayunkan orc merah itu, dan memanfaatkan berat dari pedang besar di tanganku sendiri untuk berputar dari momentum itu.

Dengan gaya sentrifugal membantuku, aku menggunakan Skil-ku untuk secara sementara meningkatkan pengeluaran tenagaku hingga batasnya.

『Ini Skil terakhirku…【Full Burst】!』

Mungkin melalui dukungan Pertama, saat aku mengaktifkan Skil itu, sebuah kekuatan yang lebih besar dari biasanya melonjak dari dalam tubuhku.

Aku mengendalikan putaran, dan mengayunkan kekuatan dimaksimalkanku ke kepala orc merah itu.

“Dengan ini…”

Suaraku tumpang tindih dengan Pertama.

“Ini akhirnya!!”

『Ini akhirnya!!』

Orc itu mencoba mengorbankan lengan kirinya untuk selamat, tapi lengan yang digunakannya sebagai tameng terpotong hingga tembus.

Pedangku menancap dalam ke tanah, dan cekungan di tanah sekeliling mengatakan kekuatan serangan itu.

“Hah… hah… brutal sekali.”

Setelah aku mengkonfirmasi kedua bagian dari orc itu perlahan jatuh ke tanah, pedang perak itu berubah kembali menjadi sebuah ornamen sederhana.

(Dia bilang Ketujuh membuatnya dibuat secara khusus, tapi… kalau dipikir-pikir, Zell memang bilang bahwa itu mengandung logam langka pada ornamen itu.)

Mengingat kata-kata yang Zell sampaikan padaku saat aku diusir, aku mulai berharap mereka memberitahuku soal itu lebih awal.

Tapi karena pengurangan Mana yang tiba-tiba, aku tak bisa menuangkan tenaga ke tubuhku.

Lututku membentur permukaan tanah, dan yang menopang tubuhku… Novem di sana.

“Lyle-sama!”

Novem mendekapku, dan mungkin karena memang khawatir, dia memelukku cukup erat.

“Ahahaha, maaf… Aku sedikit memaksakan diriku.”

Zelphy-san juga berlari menghampiri, dan meminta konsfirmasi dariku.

“Apa yang sebenarnya kau lakukan? Dan senjata bersinar itu… oi, tunggu! Jangan tumbang di tempat seperti ini!”

Zelphy-san cukup berisik, tapi itu sama seperti biasanya, jadi aku merasa sedikit lega. Di dekat situ, aku melihat Rondo-san terluka, tapi Rachel-san sibuk merawatnya.

Aria tampak kehabisan nafas, tapi dia menggunakan Skil-nya untuk mengalahkan monster-monster.

“Tolong tenanglah! Lyle-sama, kita segera keluar dari sini. Apa menurutmu kesadaranmu bisa bertahan selama itu?”

Jadi kami entah istirahat sejenak di sini, atau langsung keluar.

Tapi aku merasa sama seperti biasanya, sepertinya aku tidak mengalami sebuah Perkembangan.

Aku benci itu.

Aku ingin menunjukkan sedikit kebandelan(TLnote: obstinacy).

“Aku tak apa. Kalau aku istirahat sedikit, aku akan segera bisa berdiri… Novem, terima kasih.”

“Jangan khawatirkan itu.”

Novem tampak lega, tapi dia terus menopang tubuhku. Pada Aria, yang mendekat, aku bicara.

“Jadi kau bisa menang melawan monster-monster. Apa kau sedikit lebih percaya ciri, sekarang?”

Aku mencoba menggodanya sedikit, tapi dia memberikan respon terkejut.

“Kau… melihat?”

Mungkin dia menganggapnya sebagai pujian, karena dia tampak bahagia.

(Aria, mungkin kau tipe yang mudah tertipu. Kau harus berhati-hati… lebih penting lagi…)

Aku melihat kelompoknya Rondo-san.

“Aku minta maaf karena sewenang-wenang mengambil tindakan sendiri.”

Rachel-san menghela nafas. Rondo-san lukanya dibalut dengan perban, tapi dia tersenyum.

“Itu mengagumkan. Aku tak pernah berpikir kau akan bisa melakukan sebanyak itu. Anak Bangsawan Bodoh tidak cocok denganmu, Lyle.”

Melihat senyuman tak henti-hentinya, aku berpikir bahwa mungkin dia adalah seseorang yang cukup berpikiran luas. Dia mengarahkan senyuman pada petualang lebih muda yang bertindak dengan sendirinya.

Tapi Rachel-san berbeda.

“Kau terlalu berkehendak-bebas. Itu baik-baik saja kali ini, tapi lihat dirimu sendiri. Jadilah lebih sadar atas fakta bahwa kau punya orang-orang yang akan menangisimu kalau kau mati. Dan tunggu, aku ingin mengatakan ini, tapi aku tidak dapat kesempatan, jadi ijinkan aku memberimu permintaan maaf terus terang di sini. Terima kasih.”

Aku sejujurnya tidak merasa bahwa aku benar-benar menerima terima kasih, tapi aku rasa dia menujukkan perhatian dengan caranya sendiri.

Aku tersenyum sarkastik.

Zelphy-san memberitahuku agar tidak sok kuat, dan agar mengkhawatirkan diriku sendiri.

“Kami selamat karena kau, Lyle. Tapi tolong sedikit lebih percayalah pada orang lain. Apa yang mereka dan aku tak bisa, kalau kau mempertimbangkan itu, mungkin kau bisa bergerak dengan lebih efisien. Aku bisa mengerti perasaanmu ingin menyembunyikan Skil-mu, tapi tolong berikan paling tidak sedikit informasi soal itu.”

Memikirkan apakah memang seperti itu, aku mulai mempertimbangkan apakah mengungkap tentang para leluhur atau tidak.

(Pertama-tama, aku harus beritahu Novem. Aku punya banyak hal yang harus aku beritahukan padanya. Seperti tentang Generasi Pertama…)

Seorang pria barbar yang tidak mengkhawatirkan detail. Yang bergerak dengan insting, dan mengaduk-aduk(TLnote: stirred up, maksudnya menyemangati/menyulut semangat atau bisa saja menghasut, entah yang mana dalam konteks ini) sekelilingnya.

Tapi dia adalah pendiri yang bisa diandalkan dari Keluarga Walt.

(Aku bertanya-tanya apakah dia mengakuiku.)

Aku menggenggam Jewel selagi aku memikirkan itu. Novem membuka lebar matanya.

“Gem-nya bersinar… ini…”

Saat Novem mengatakan itu, yang lainnya juga memberikan reaksi terkejut.

Apa yang melayang di dalam kepalaku adalah nama dari sebuah Skil.

“… 【Experience】.”

Itu bukan hanya namanya yang muncul.

Hal macam apa yang bisa dilakukannya, dan bagaimana itu bisa digunakan.

Semuanya datang padaku di saat bersamaan.

Sejak itu pertama bermanifestasi, itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk Skil-ku mengambil bentuk pasti.

“Tunggu, itu berarti… kau, berapa banyak sebenarnya Skil yang bisa kau gunakan?”

Aria tercengang, tapi lebih dari itu, itu adalah isi dari Skil yang mengejutkanku.

Maksudku, Skil-ku adalah Support Class, dan itu tampaknya aktif secara perpetual(TLnote: aktid terus-menerus).

Aku pikir alasan aku begitu mudah kelelahan adalah karena para leluhur, tapi tampaknya salah satu faktor penyebabnya adalah Skil-ku sendiri yang belum komplit.

(Sebuah Skil yang memungkinkanmu memperoleh banyak pengalaman? … Apa lagi, itu aktif secara perpetual, jadi itu berarti secara konstan menghabiskan Mana-ku.)

Saat itu masih belum komplit, sepertinya itu tidak menunjukkan efek yang dimaksudkan, tapi itu tetap saja menghisap Mana-ku.

Dan di sini, aku akhirnya bisa mengetahui efeknya, tapi…

(Tidakkah Skil-ku sedikit terlalu tidak jelas!!?)

Setelah istirahat.

Kami mengambil tiga siklus untuk membawa kelima petualang yang terluka keluar dari labirin.

Orang support yang bertindak sebagai kusir kami mengisi perut kami dengan sup yang dia siapkan, dan setelah itu, kami menjelajah ke ruangan terdalam.

Selama intinya… harta karunnya tetap berada di ruangan terdalam, labirinnya akan terus tumbuh, monster-moster akan terus muncul.

Untuk menghindari bahaya lebih jauh, mengambil harta karunnya adalah kebutuhan.

Saat kami memasuki ruangan, Rahu-san menyadari sebuah logam bersinar melekat di ruang diantara pepohonan.

“Bukankah itu dia!?”

Dia berlari lebih dulu, dan memotong ranting-ranting yang melilitnya, sebelum mengelurkan logam itu.

Saat dia melakukan itu, kondisi bernafas yang sulit tiba-tiba menghilang.

“Dengan ini, labirinnya telah dibereskan. Hanya ada satu lantai, jadi itu mudah, tapi kalau itu telah tumbuh hingga tiga atau empat, itu akan tidak mungkin dengan jumlah orang segini.”

Logam di tangannya tampak seperti besi.

Tapi itu adalah besi khusus yang telah terpengaruh oleh sihir dari labirin.

“Ooooh! Kalau kau membuat ini menjadi sebuah senjata, itu menjadi Alat Sihir yang bisa diberikan Skil, kan!”

Rahu-san meminta konfirmasi akan fakta itu dari Zelphy-san dengan semangat tinggi, dan dia mengangguk dengan senyum pahit di wajahnya.

“Kalau kau membawanya ke pengrajin di Dalien, kau bisa membuat beberapa dengan setengah dari itu, aku rasa. Tapi pastikan kau memilih yang bersertifikasi guild.”

Itu tidak terlalu menyenangkan kalau logam semacam ini mulai mengalir ke rute bawah tanah(TLnote: maksudnya pasar gelap/semacamnya).

“Rahu, kita akan harus dengan setara membagi imbalannya. Karena kita bertujuh, haruskah kita menjadikannya tujuh bagian?”

Rahu-san mendekat ke Rondo-san.

“Bolehkah aku membeli bagian yang lainnya!? Selama kita punya ini, maka kita akan bisa membawa Alat Sihir juga. Kalau seperti itu, kita bahkan bisa mulai menantang labirin lain sebagai petualang!”

Rahu-san tampak dalam semangat tinggi selagi dia mengungkapkan keinginannya untuk mengubah harta karun di tangannya menjadi sebuah Alat Sihir. Tapi melihat jumlah logam itu, jumlah yang bisa dibuat adalah sekitar tiga hingga empat item.

“Kita tidak punya uang semacam itu. Kita kumpulkan saja perlahan-lahan.”

Rondo-san menghela nafas.

Dengan jumlah ini, berapa banyak koin emas yang akan dibutuhkan?

Selagi aku memikirkan itu, aku menyadari mata Zelphy-san menunjuk pada satu sudut ruangan.

Aku melihat ke sana juga.

“… Dia seorang kenalan, kan?”

Selagi Zelphy-san memanggilnya, dia menggumamkan beberapa kata afirmasi.

“Dia keparat yang cukup seenaknya sendiri. Setelah mengatakan bahwa kematian adalah akhirnya berkali-kali, pada akhirnya, dia membuang nyawanya sendiri untuk menyelematkan beberapa pendatang baru.”

Membuat ekspresi rumit, dia mendekati mayat petualang veteran itu, dan mulai menggeledah barang-barangnya.

Dia menumpuk segala yang tampak punya nilai, dan akhirnya mengambil kartu guildnya.

Dari sudut pandangku, itu terlihat seperti perampokan di pinggir jalan.

“Hei, kalian mendekatlah juga.”

Mendengar itu, kami… aku, Novem, dan Aria, mendekati mayat itu.

Mungkin karena dia dipukul hingga mati dengan senjata tumpul, mayatnya dalam keadaan yang cukup buruk.

Novem meletakkan tangannya ke mulutnya, dan wajah Aria memucat selagi dia mengambil posisi jongkok.

Aku menutupi mulutku.

“Ingat ini. Kematian dari seorang petualang adalah sesuatu seperti ini. Pada akhirnya, segala yang bernilai diambil, dan mayatnya dibuang. Pastikan kalian tidak lupa untuk mengambil kartu guild-nya, dan mengirimkannya ke guild.”

Akhir dimana dilucuti dari semua yang berharga.

Mengatakan itu, Zelphy-san mengeluarkan sebuah tas kulit yang dia tidak biasanya gunakan, dan dia mulai dengan hati-hati meletakkan barang-barang milik petualang veteran itu di dalamnya.

“Zelphy, itu tidak seperti kau perlu …”

Aria berwajah pucat dan nafasnya pendek, tapi Zelphy-san tidak memperdulikan kata-katanya.

“Ini hakku. Aku berangkat ke sebuah wilayah berbahaya, dan mengkonfirmasi mayatnya. Aku bahkan melakukan penyelidikan pada apa yang sebenarnya terjadi di sini. Di mana masalahnya dengan hal itu?”

Selagi dia melototi Aria, Zelphy-san tampak cukup berbeda dari biasanya.

Kelompok Rondo-san tidak mengatakan apa-apa.

“Kalau begitu, pengambilan telah selesai. Kita kembali, dan istirahat yang layak. Juga, orang besar di sana.”

“Aku?”

Pada kata-kata Zelphy-san, Rahu-san menunjuk pada dirinya sendiri. Dia memegang logam berharga itu di bawah lengannya.

“Bagianku cukup dengan barang-barang pria ini. Negosiasikan sendiri sisanya dengan kelompok Lyle. Mereka masih pemula, jadi kau mungkin bisa mengakali mereka dengan cukup mudah.”

Dengan kata-kata itu, Zelphy-san berbalik pergi. Aria berekspresi sedih selagi dia menatap pungunggnya.

“Karena hal-hal yang terjadi di Keluargaku, Zelphy jadi seperti…”

Melihat sosok petualang veteran itu, Aria sedih.

Aku mlihat Novem, dan memberikan wadah air pada Aria untuk membasahi mulutnya.

Kalau kau mati, kau dibuang. Mereka yang hidup akan mengambil segalanya yang bernilai.

Dia menunjukkan preseden(TLnote: precedent) semacam itu.

“Kalian berdua, sudah waktunya kita pergi.”

Saat aku mengatakan itu, Aria melihat mayat itu.

“Paling tidak, penguburan…”

Di sana, Rondo-san menjelaskan.

“Dalam beberapa saat, labirin ini akan layu(TLnote: wither away). Segalanya di sini akan membusuk, jadi entah kau menguburnya atau tidak, itu semua akan sama saja. Atau mungkinkah kau berencana memikul mayat itu jauh-jauh hingga keluar dari sini?”

Aria dengan penuh duka melihat ke tanah.

Dan Rondo-san melanjutkan.

“Lebih baik kau menjaga perasaan itu. Itu mungkin naif, tapi sebelum menjadi petualang, kita semua manusia.”

Rondo-san meninggalkan area, dan Rahu-san mengikuti di belakangnya. Kata-kata perpisahannya…

“Kita negosiasikan itu nanti. Oh, aku tidak berniat mengakali kalian, tapi. Hanya saja kami hanya tidak punya banyak waktu… maaf, itu bukan sesuatu yang sepatutnya kukatakan di saat seperti ini. Bagaimanapun juga, aku tak bisa menegur Rachel karena lidah lepasnya(TLnote: maksudnya mudah keceplosan/bicara sembrono/ semacamnya).”

Tampaknya dia akan menggunakan kesempatan ini untuk mengatakan sesuatu, tapi merasakan itu tidak mungkin, dia meninggalkan ruangan.

Aku menawarkan tanganku pada Novem dan Aria, dan menopang mereka selagi kami berjalan.

Di sana, Keempat…

『Diapit oleh dua wanita cantik…』

Mengatakan beberapa kata penuh dengan kebencian. Mendengar itu, Ketiga tertawa.

『Kau punya keberuntungan bagus, Lyle. Itu hal yang cukup penting, kau tahu.』

Dan Keenam bicara.

『Hei, kita pergi sekarang. Zelphy itu baru saja melalui rasa sakit besar untuk menunjukkan pada kalian rasa dari kenyataan. Pikirkan perasaannya juga.』

Mendengar kata-kata itu, aku merasakan keinginan untuk memiringkan kepalaku.

(Perasaan Zelphy-san?)

Kedua menghela nafas.

『Astaga… sepertinyaa dia benar-benar berniat untuk meninggalkan Nona Bangsawan ini pada Lyle. Dia bahkan melakukan aksi teatrikal itu.』

Para leluhur mengatakan bahwa sebelumnya itu hanyalah pura-pura, tapi aku tak bisa mengerti maksud mereka.

(Benar-benar berniat untuk meninggalkan? Apa yang kalian maksud dengan itu?)

Menopang mereka berdua, aku menuju ke arah pintu keluar labirin.

===


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s