Sevens – 2nd Gen. – Chapter 6


Hari Libur


===

Bagi para petualang, salah satu hal untuk diingat adalah istirahat.

Jelas, kau tak bisa hanya pergi keluar dan melawan monster setiap hari.

Sama juga, tidak ada petualang yang terus mengambil kerja sampingan setiap hari.

Mengistirahatkan tubuh itu penting, tapi perlengkapan juga perlu maintenance(TLnote: perawatan).

Kalau kau memiliki perlengkapan kelas-tinggi, maka biaya maintenance kemungkinan sama tingginya. Tapi maintenance semacam itu cukup memakan waktu.

Akan merepotkan kalau perlengkapan tidak berfungsi baik saat digunakan.

Untuk hal itu, Zelphy-san memerintahkan kami untuk beristirahat secara cukup. Kebijakannya adalah kalau kami berlebihan, dia akan menghentikan kami.

Kalau kami tidak melakukan sesuatu yang esensial, dia akan menunjuknya. Dan terlebih dahulu, dia akan memberikan penjelasan apa yang diperlukan.

Itu mungkin terdengar sangat jelas, tapi kalau kau bertanya, diantara orang-orang yang dipekerjakan sebagai petualang, ada banyak yang hanya mengasah keahlian bertarung dalam pertarungan aktual.

Berpikir itu lebih baik kalau orang-orang semacam itu tidak menjadi penasihat, aku mulai membaca sebuah buku di ruang sumber(TLnote: resource) yang aku secara periodik mulai datangi setiap kali hari istirahat.

Tapi hari ini, aku tidak sendirian.

“… Apa?”

Dengan hanya meja di seluruh ruang sumber yang sempit diantara kami, aku menghadap Aria.

Dari masalah sebelumnya, dia juga berusaha menjaga beberapa jarak dariku.

Tapi hari ini, dia di sini, menghadapku di ruang sumber. Saat aku berpikir tentang bagaimana aku seharusnya menunda sedikit, dan datang di waktu yang berbeda, aku sadar bahwa kami pada dasarnya hidup di bawah siklus yang sama, jadi waktu luangku, dan waktu laungnya biasanya tumpang-tindih.

“Bukan apa-apa. Dan tunggu, apa kau benar-benar membaca semua itu?”

Aria menunjuk pada tumpukan buku di sebelahku. Dia juga membuka buku yang Zelphy-san sarankan untuk dia baca.

Itu utamanya tentang peran dari orang-orang dalam kelompok.

Sebaliknya, aku tidak benar-benar ada sesuatu yang aku ingin cari tahu, jadi aku secara acak memilih beberapa buku untuk dibaca, dan mengulangi siklus itu.

“Tentu saja. Kebetulan aku suka membaca.”

Aku suka membenamkan(TLnote: immersing) diriku sendiri dalam cerita-cerita.

Dan dari semua hal, kau bisa masuk tanpa memikirkan terlalu banyak pikiran tidak diperlukan. Dari umur sepuluh dan seterusnya, waktu aku bisa membaca adalah waktu aku bisa lari dari kenyataan.

“Dan tunggu, kenapa kau bahkan membaca yang ada agrikulturnya? Aku ragu yang itu disimpan di guild.”

Pada pertanyaan Aria, bukan aku, tapi Kedua yang menjawab.

Akan tetapi, tidak seperti dengan Novem, perlakuannya pada Aria kasar.

『Berdasarkan situasinya, kau mungkin saja dikirim untuk membantu kerja pertanian di desa lain. Sejak Dalien menjadi lebih besar dalam skala, request semacam itu sedikit ditemukan, tapi. Dan tunggu, kau bahkan tidak tahu sesuatu sesederhana itu!?』

Karena perkembangan kota, request semacam itu telah berhenti datang ke guild. Tapi tetap, bukunya saja yang tersisa di ruang referensi.

Aku memperhalus kata-kata Kedua, dan menyampaikannya.

“Aku rasa itu diperlukan dulunya. Maksudku, bahkan guild Dalien punya waktu dimana guild menerima request semacam ini, kan?”

Sebenarnya, buku agrikultur yang kubaca sedikit tua. Tapi Kedua, dan Ketiga yang cinta-buku penuh ketertarikan padanya, jadi mereka menyuruhku membalikkan halaman untuk mereka baca.

Generasi Ketiga yang ceria melihatnya, selagi dia memberi sinyal untuk membalik ke halaman selanjutnya.

『Melihat perkembangan teknologi ini benar-benar membuatku iri. Kalau ada metode seperti ini dulu, maka mungkin jaman kami akan lebih baik. Teknologi memang penting… Lyle, tolong balik halamannya.』

Mungkin membaca buku adalah hobiku.

Tapi para leluhur berbeda.

Mereka ingin melihat seberapa berbeda era mereka dari jaman modern, dan mereka tertarik pada kemajuan teknologi baru.

Dari bagian itu, aku mengerti bahwa mereka benar-benar penguasa feudal.

“… Apa kau berencana untuk menyentuh pertanian selanjutnya?”

Tetap melihat bukunya, Aria memberikan pertanyaan. Sejak waktu dia menjadi bisa bergerak, ini adalah pertama kalinya dia memulai pembicaraan denganku.

“Tidak, aku hanya sedikit penasaran.”

Aku sudah membaca aplikasi(TLnote: applications, maksudnya penerapan) sihir mengenai agrikultur.

Menggunakan sihir, itu takkan menjadi miskonsepsi untuk mengatakan teknologi untuk membuat kehidupan lebih melimpah secara konstan sedang diasah. Tapi di sana, ada satu aturan tak tertulis.

Jangan pernah menggunakan hanya sihir untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, atau begitulah diputuskan.

Itu mungkin terdengar seperti sebuah aturan yang tidak perlu, tapi pendapatku adalah mereka mempertimbangkan konsumsi mana.

Bagi para penyihir… khususnya orang-orang yang hanya menggunakan sihir sebagai senjata mereka, mengeringkan cadangan mana mereka adalah masalah hidup-mati.

Sihir khusus semacam ini kemungkinan digunakan oleh orang-orang yang ahli dalam hal itu.

Aku pikir aturan itu diputuskan berdasarkan hal itu, tapi sepertinya ada alasan lain.

(Aku rasa ada beberapa hal yang kau tak bisa pelajari hanya di dalam buku.)

Setelah benar-benar pergi keluar dan menjalani hidup, aku sering merasa memang seperti itu. Tapi aku masih tidak berpikir itu sia-sia bagiku untuk berada di sini membaca buku seperti ini.

Sebaliknya, sepertinya buku tidak begitu cocok dengan Aria.

Dia membuat ekspresi sulit selagi dia melihat halaman-halaman.

Bukannya dia tak bisa membaca, tapi mungkin itu hanya tidak cocok dengan kepribadiannya.

Busananya adalah satu hal, tapi dia seorang gadis yang cukup ceria untuk seorang Nona Bangsawan.

“Apa kau benci membaca?”

“Aku tidak membencinya. Hanya saja itu titik lemahku. Aku sering dibuat banyak membaca sebelumnya, tapi hingga akhir-akhir ini, aku tidak punya waktu semacam itu.”

Ayah dan putri. Aku mendengar bahwa sang ayah tidak bekerja dengan layak, dan menjalani gaya-hidup penuh minuman keras.

Di sebuah lingkungan keluarga seperti itu, Aria kemungkinan mendapatkan kesulitannya.

Bahkan sekarang, dia belum membicarakan masa lalunya, tapi aku bisa bayangkan bagaimana pembicaraan semacam itu jadinya.

Pada seorang gadis seperti itu, Pertama memberikan simpatinya. Secara umum, satu-satunya yang bersimpati dengan Aria adalah Generasi Pertama.

『Jadi kau melalui banyak hal, Aria-chan.』

Kedua memberikan tanggapan dingin pada pendapatnya.

『Aku bisa bersimpati dengan bagian tentang dia dibuat melewati banyak hal karena ayahnya. Tidak, empati.』

Aku benar-benar tak bisa merasakan apapun kecuali hawa dingin dari hubungan Pertama dan Kedua.

Saat aku dengan gegabah bertanya apa yang terjadi diantara mereka, emosi Kedua meledak, dan mana-ku terhisap dalam jumlah besar, jadi aku memutuskan untuk membawa-bawanya lagi.

Setelah itu, sesaat kesunyian terjadi.

Beberapa waktu setelah pembicaraan kami terhenti, aku selesai membaca bukuku, jadi aku menempatkannya di tumpukan buku yang menggunung.

Aku sudah membaca semua yang di tumpukan.

Melihat tingginya, itu sepertinya sudah waktunya bagiku untuk kembali pulang.

“Aku akan kembali, tapi bagaimana denganmu?”

Untuk mengembalikannya ke tempat asalnya, aku berdiri, dan membawanya di tanganku.

Aria belum selesai membaca, jadi dia melirik sekilas padaku, sebelum dia mengarahkan kepalanya ke satu sisi.

“Aku belum selesai di sini, jadi kau bisa pergi lebih dulu. Beritahu Novem bahwa, um… aku akan terlambat.

Aku menerima pesannya, sebelum meletakkan buku-buku itu, dan keluar dari ruangan.

Guild sibuk seperti biasanya.

Meskipun kami sedang istirahat, masih ada para petualang yang dengan normal menyelesaikan pekerjaan mereka. Aku meninggalkan ruang referensi, dan melewati dekat meja resepsi di lantai dua untuk melihat antrian hari ini.

Seperti biasa, hanya antriannya Hawkins-san yang pendek.

(Dia melakukan pekerjaannya dengan rapi, dan dia orang yang baik, padahal.)

Kulit coklat, dan rambut merah potong-cepak. Di atas itu, armor ototnya jelas terlihat dari balik bajunya.

Tubuhnya juga besar, dan dia tampak sangat jauh dari para petualang standar di luar sana.

Sebenarnya, cukup banyak petualang veteran yang memanggilnya『Bos』karena rasa akrab. Atau mungkin karena mereka tahu mereka tak bisa melawannya.

Dari tingkah laku mereka, itu terlihat bahwa para pendatang baru terlalu takut untuk mendekat.

Bahkan saat dia menangani orang-orang secara sopan dengan senyuman, para pendatang baru menjauh.

Dibandingkan itu, antrian si cantik mengagumkan seperti biasa.

Mayoritas yang mengantri di sana adalah pria muda.

Beberapa dari mereka terpancing oleh tampangnya, dan yang lainnya ingin membuat dia terkesan dengan pekerjaan berbahaya yang mereka akan lakoni.

Kedua menghela nafas kecewa.

『Kenapa mereka melalui upaya tak berguna semacam itu. Dari attitude-nya, kau bisa tahu dia kemungkinan punya satu atau dua lelaki.』

Aku tak bisa benar-benar mengatakan apapun karena ketertarikan umumku dalam hubungan percintaan, tapi dengan penampilan itu, dia memang mungkin punya lelaki menemaninya.

Dari apa yang aku bisa lihat, dia di akhir masa remajanya, aku rasa?

Kalau kau berpikir tentang umur bisa menikah, itu tidaklah terdengar aneh kalau dia sudah diambil.

(Tidak, orang biasa(TLnote: commoners) punya standar umur yang berbeda untuk hal itu.)

Umur bisa menikah Bangsawan dikatakan awal, jadi aku ingat bahwa wanita biasa umumnya menikah lebih lambat.

Aku bahkan pernah dengar bahwa melalui kemajuan dalam sihir penyembuhan, jangka hidup rata-rata manusia meningkat. Karena itulah, umur rata-rata pernikahan juga menjadi semakin lambat dan semakin lambat, atau begitulah aku baca di buku.

Jadi…

『Tunggu, apakah itu terlambat baginya kalau dia belum menikah di usia itu? Dia mungkin punya beberapa masalah pada dirinya, dia itu.』

Pada evaluasi keras Kedua, Ketujuh merespon.

『Bukankah usia itu normal di jaman sekarang? Maksudku, jaman telah berubah.』

Berasal dari era yang lebih baru, Ketujuh bilang tak ada masalah kalau resepsionis cantik itu belum menikah.

Sebenarnya, ada jarak lebih dari seratus tahun antara Kedua dan Ketujuh.

Rasa nilai mereka cukup berbeda.

Menjadi lelah menatap meja-meja resepsionis itu, aku menuju ke arah tangga.

Di sana, aku melihat sekelompok bertiga menaikinya.

Kelompok gender-campuran itu terdiri dari dua laki-laki dengan sebuah pedang dan tombak. Mereka mungkin garis depan.

Dan mereka punya seorang penyihir berjubah membawa sebuah tongkat. Itu adalah sebuah kelompok dengan keseimbangan bagus.

Ah, aku harus tambahkan, ‘Untuk kelompok bertiga, tapi’.

Mereka menaiki tangga berdampingan satu sama lain, jadi aku minggir ke satu sisi.

“Oh, maaf. Aku terhanyut dalam pembicaraan, aku tidak sadar.”

Pria dengan sebuah pedang menggantung di pinggangnya sedikit lebih tua dariku.

Melihat gagang pedangnya, aku bisa tahu bahwa senjata itu digunakan-dengan baik, dan figur berdiri dan berjalannya menunjukkan bahwa kemampuannya juga tinggi.

Sama, pria tinggi memegang sebuah tombak tampaknya punya kekuatan yang cukup besar.

“Berhati-hatilah. Kalau kau terus bermesraan seperti itu, kau akan menabrak dan mengganggu orang-orang. Maaf… tunggu…”

Pria dengan tombak itu menatap wajahku, dan tampaknya sedikit kesulitan.

Di sana, si wanita dengan tongkat berteriak.

“Kau Lyle, bukan!? Dengan rambut dan mata biru itu, tidak salah lagi. Kau adalah『Lyle, Si Anak Bangsawan Bodoh』, bukan!?”

Mendengar itu, mataku menjadi ragu-ragu.

Aku mendengar sebuah suara tertawa dari Jewel.

Itu Pertama.

『Gahahaha, sepertinya rencanamu sukses komplit! Kenapa tidak bergembira, Lyle!』

Berpikir dia seharusnya benar-benar sedikit lebih banyak mempertimbangkan perasaanku, aku mengangguk.

Pria berpedang itu menutupi mulut wanita itu, dan meminta maaf.

“Kau pikir apa yang kau katakan! A-aku minta maaf. Dia bukan orang yang jahat, tapi bibirnya sedikit longgar, atau bagaimana aku mengatakannya… maaf.”

Aku memberitahunya bahwa aku tidak masalah, selagi aku menerima maafnya.

“Kau seharusnya benar-benar berpikir sebelum membuka mulutmu.”

Pria bertombak itu juga tampak sedikit jengkel pada wanita itu.

“M-maksudku… Aku minta maaf.”

Itu adalah sekelompok orang yang tampaknya dua atau tiga tahun lebih tua dariku.

Mungkin karena mereka telah menumpuk sejumlah besar pengalaman, mereka memiliki atmosfir yang tidak seperti para petualang muda lainnya.

“Aku【Rondo】. Yang di sana dengan tongkat adalah【Rachel】, dan yang dengan tombak adalah【Rahu】. Senang bertemu denganmu.”

Mereka memberikan perkenalan, jadi aku juga memberikan namaku.

“Aku Lyle. Aku harap kita akur.”

Saat aku mengatakan itu, Rahu-san yang memengang tombak meletakkan tangannya ke dagunya , dan melihatku. Dia menginspeksiku dari kepala hingga kaki, dan tersenyum.

“Kesanmu benar-benar berbeda dari rumor. Sepertinya kau punya beberapa keahlian pada dirimu.”

Mendengar itu, Rondo-san melipat lengannya, dan mengangguk.

“Memang. Meski begitu, apa itu menjadikan rumornya tanpa dasar? Oh, benar, kami juga ada pekerjaan. Maaf, tapi kita akan berpisah di sini. Akan bagus kalau kita bisa berbincang-bincang lain kali.”

Mereka bertiga menuju ke meja, dan pada akhirnya, Rachel-san memberikan sedikit lambaian.

“Sampai nanti.”

Kelihatannya mereka bukan orang jahat. Petualang membawa imej bajingan(TLnote: ruffian) yang kuat, tapi sepertinya petualang yang rajin memang ada.

Ketiga memberikan evaluasinya dari pembicaraan itu.

『Bagus mereka tidak menelan rumor seutuhnya. Yah, itu berarti bahwa ada beberapa orang di luar sana yang akan mengevaluasimu dengan mata mereka sendiri, Lyle. Bagus untukmu.』

(Tidak, aku bergerak seperti yang kalian katakan, dan mendapatkan julukan『Anak Bangsawan Bodoh』karena kata-kata kalian… bukannya itu penting, sih.)

Terkadang, ada beberapa petualang yang mengarahkan mata menghina padaku, tapi ada juga orang-orang seperti Hawkins-san dan Rondo-san sebelumnya itu di luar sana.

Saat aku memikirkan itu, pikiranku menjadi sedikit lebih ringan.

“Aku pulang.”

Saat aku kembali ke rumah, Novem muncul dari dapur untuk menyapaku.

“Selamat datang kembali, Lyle-sama. Ah, jadi Aria-san kembali secara terpisah?”

Berdasarkan apron yang dia kenakan, dia mungkin menyiapkan makan siang.

Saat aku memberitahunya bahwa Aria akan terlambat, perutku mulai keroncongan dari wangi yang berasal dari dapur.

“Dia bilang itu akan membutuhkan beberapa waktu baginya, jadi dia akan terlambat. Daripada itu, ini bau yang cukup enak.”

Aku melihat ke arah dapur, dan Novem tertawa sendiri, selagi dia mengatakan bahwa makan siang akan segera siap, dan kembali.

Saat aku bertanya-tanya apa makan siangnya, Keempat memberiku penilaian tegas.

『… Lyle.』

Karena Novem tidak di dekat sini, aku menjawab dengan suara lirih.

“Apa?”

『Itu tadi absolut tidak bagus. Aku akan berusaha tetap diam, tapi itu terlalu mengerikan. Kenapa kau meninggalkan Aria-chan? Dan dimana terima kasihmu untuk Novem-chan membuatkan makan siang? Jadilah sedikit memikirkan dirimu sendiri! Hanya melihatmu saja membuatku jengkel!』

Akhir-akhir ini, aku telah bisa merasakan bahwa pria ini mungkin melalui banyak kesulitan untuk istrinya.

Mungkin kalau dia tidak melakukan sebanyak ini, sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.

“Dia mengatakan itu, tapi bagaimana menurutmu dalam hal ini, Kelima?”

Saat aku bertanya, Kelima memberikan jawaban merendahkan.

『Jangan pikirkan itu. Ayah(TLnote: Pops, maksudnya Generasi Keempat) punya sedikit penyakit. Dia terlalu menyayangi mama, dan memberikan dia perlakuan seorang putri… karena hal itu, aku juga melewati neraka.』

Setiap generasi memiliki berbagai masalah.

Saat aku pergi untuk mencuci tanganku, aku mendengar suara Novem dalam perjalanan.

“Lyle-sama, apa kamu bisa baikan dengan Aria-san?”

Berdasarkan pertanyaannya, sepertinya dia mengkhawatirkan hubunganku dan Aria. Di saat yang sama, aku merasa aku tahu kenapa Aria berada di ruang referensi hari ini.

“Tidak. Tapi kami bisa bicara sedikit. Aku minta maaf mengkhawatirkanmu soal itu, Novem.”

Saat aku mengatakan itu, dia memberikan senyum masam.

“Jadi kamu tahu?”

“Tentu saja aku akan mengerti kalau dia tiba-tiba melakukan pembicaraan denganku seperti itu. Aku tahu bahwa sesuatu telah terjadi.”

Novem melepaskan apronnya, melipatnya, dan menempatkannya di rak terdekat.

“Aku rasa Aria-san punya masalahnya juga, jadi tolong perhatikan itu.”

Aku memalingkan mataku darinya, mengangguk, dan segera pergi untuk mencuci tanganku.

… Di  meja resepsi guild, pekerjaan untuk hari ini telah selesai, jadi Hawkins meregangkan tubuhnya.

“Sepertinya hari ini berakhir dengan aman.”

Wanita paruh baya bekerja di sebelahnya menepuk bahunya selagi dia menjawab.

“Akhirnya. Aku bertanya-tanya kenapa mereka semua datang padaku. Tetap saja, sepertinya mereka telah mulai mengantri padamu akhir-akhir ini.”

“Aku rasa itu akan tidak apa-apa kalau lebih banyak yang datang padaku, tapi itu tidak berlangsung seperti yang aku harapkan.”

Wanita yang memuji Hawkins itu tersenyum, dan berdiri sebelum memulai persiapannya untuk pergi.

Si cantik di sisi jauh telah pergi lebih awal, jadi dia tidak di sana lagi.

Mungkin dia ditraktir makan oleh seorang petualang. Hawkins menghela nafas saat pikiran itu terlintas di pikirannya. Dia mulai merapikan dokumen dan alat-alat di mejanya.

Setelah pekerjaan berakhir, membersihkan mejanya… konternya… adalah prosedur standar Hawkins.

Anggota staf yang mengambil alih dari si cantik kesulitkan saat meneruskan semua pekerjaan yang belum diproses, sepertinya.

Hawkins memanggil mereka.

“Ada masalah apa?”

“Ah, Hawkins-san… sebenarnya, beberapa dokumen yang aku tidak pernah dengar muncul saat aku mengambil alih pos. Itu sedikit menyulitkan.”

“Lagi, ya?”

Dengan wajah dan sosok bagus, dia adalah eyecatcher-nya meja resepsi. Itu akan akuran untuk mengatakannya seperti itu, tapi sebenarnya, ada masalah dengan etos kerjanya.

 Pada para petualang yang mengantri padanya, satu atau dua masalah kecil akan sebenarnya membuat kesempatan untuk percakapan lebih lama dengannya. Itu adalah sesuatu untuk dirayakan.

Tapi dari sudut pandang para resepsionis lain, dia tak lebih dari masalah.

Dari semua hal itu, ayah si gadis adalah petinggi di guild.

Hawkins juga diberitahu oleh bosnya untuk mengawasinya, jadi kalau sebuahbmaslah muncul, dia akan mengulurkan tangan kalau mungkin.

Tapi sepertinya lingkungan semacam itu adalah pengaruh buruk pada dirinya.

“Aku yakin aku memberitahunya untuk menyerahkan posnya dengan benar.”

“Kau tidak bersalah, Hawkins-san. Para anggota staf lainnya hanya memberitahu dia sesuatu seperti, ‘sebanyak ini tidak apa-apa’, dan berusaha menghiburnya. Individunya sendiri tampaknya berpikir itu juga tidak apa-apa.”

Akhir-akhir ini, dia mulai membenci bagaimana Hawkins memberikan intruksi mendetail mengenai pekerjaan. Dia sangat sering berhenti datang untuk bicara dengannya.

Wanita paruh baya yang bekerja itu me,benci si cantik dari awal, atau mungkin dia tidak punya niat apapun untuk mengurusinya.

“Yang kesulitan seharusnya para petualang, tapi… daripada itu, dokumen macam apa itu?”

Mengatakan itu, Hawkins menerima dokumen-dokumen itu. Matanya tiba-tiba berubah serius.

“Aku minta maaf, aku staf temporer, jadi aku tidak bisa mengerti arti di belakangnya.”

Normalnya, salah satu yang bekerja di belakang akan mengambil resespsionisnya.

Meskipun mereka bisa menangani mayoritas pekerjaannya, ada banyak hal yang mereka tidak ketahui. Di waktu seperti itu, Hawkins atau salah satu dari lainnya memberikan follow-up.

Kalau formulir ini, dia seharusnya bisa memprosesnya sendiri. Memikirkan itu, Hawkins menjadi sedikit cemas.

“… Di mana kau menemukan dokumen ini?”

“Itu bersama dengan dokumen-dokumen lain yang aku terima saat mengambil pos.”

Staf temporer itu membuka sebuah laci, dan mengeluarkan seikat binder kusut dengan banyak dokumen disesakkan di situ.

(Sepertinya dia dengan paksa menyesakkannya lagi… Aku yakin aku mengajarinya untuk menangani dokumen dengan hati-hati, padahal.)

Menghela nafas, Hawkins mulai memeriksa dan melihat apakah formulir lainnya ada masalah.

“Aku akan cek semua dokumen di dalam sini. Juga, bisakah aku memintamu untuk memeriksa apakah salah satu dari manajemen masih ada?”

“B-baik!”

Menyadari bahwa sikap Hawkins telah berubah, anggota staf itu pergi.

Duduk di kursi, Hawkins mengeluarkan semua dokumen yang relevan dari laci.

“… Kalau dipikir-pikir, aku belum menerima laporan bahwa mereka sudah kembali.”

Pria penasihat yang menyapa Zelphy terlintas di pikirannya.

Bukan dia sendir orang yang memproses formulir mereka, jadi dia tidak mendengar waktu interval keberangkatan mereka. Tapi nalurinya memberitahunya bahwa itu tidaklah aneh kalau mereka sudah kembali sekarang.

Itu tidak seperti Hawkins menjaga meja setiap hari.

Terkadang, dia akan istorahat, dan membuat anggota staf lain untuk mengambil posnya.

Firasat buruk di pikiran, dia mulai memeriksa dokumen-dokumen itu.

“… Jadi firasat semacam itu bisa tepat sasaran terkadang.”

Di sana, adalah sebuah formulir yang menunjukkan keterlambatan kembali.

Mereka belum kembali, atau mungkin mereka berada dalam situasi dimana mereka tidak bisa. Hawkins segera pergi ke ruang belakang dari guild, dan mencari salinan lain dari kartu guild yang tersimpan di sana.

Untuk si penasihat, dan lima petualang muda yang mengikutinya, dia mencari enam kartu.

Meskipun itu dicek pada saat darurat, salinan kartu guild biasanya disimpan dimana itu takkan diketahui.

Tapi itu seperti yang dia pikirkan.

Saat dia mengambil enam kartu itu di tangannya, dia mengkonfirmasi nama-namanya.

“Tak diragukan lagi.”

Dengan ekspresi tegang, dia menggenggam kartu yang terdapat sebuah garis horizontal gelap memanjang di atas nama itu…

===


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s