Sevens – 2nd Gen. – Chapter 12


Menginginkan Pertemuan Kembali


===

Sejak datang ke Dalien, sekitar tiga bulan telah berlalu.

Karena kontrak Zelphy-san mendekati akhirnya, kami mendiskusikan pencapaian di bawah kontrak di sebuah ruangan privat dari guild.

Hawkins-san menjadi saksi, selagi aku memeriksa dokumen.

Kami datang ke sini untuk memberikan evaluasi untuk pekerjaan Zelphy-san sebagai penasihat.

Evaluasi tertinggi yang mungkin adalah【A】, tapi mengisikan itu akan berarti harus membayarkan imbalan tambahan juga.

Tak peduli seberapa baik seseorang bekerja, mendapatkan【B】adalah normal.

Selagi kami duduk dengan sebuah meja diantara kami… aku, Novem, dan Aria menengok Hawkins-san dan Zelphy-san yang duduk di hadapan kami.

Dengan ekspresi serius, Hawkins-san memberiku penjelasan.

“Lyle-kun, isikan saja evaluasi apapun yang kau percaya benar. Kalau ini menyebabkan dendam dan hal buruk, guild akan memberikan hukuman tegas, jadi jangan khawatirkan aspek itu.”

Zelphy-san tidak mengatakan apapun.

Dia hanya duduk di sana.

Aria dalam keadaan mental rumit, selagi dia menatap Zelphy-san.

Bahkan setelah request darurat, kami tetap di bawah panduannya, dan mendapatkan semua pengetahuan  dan pengalaman yang diperlukan bagi petualang.

Dalam jangka waktu tiga bulan ini, tak pernah ada momen dimana aku berpikir itu sia-sia.

Pada formulir, aku mengisikan nilai tertinggi yaitu【A】.

“… Itu evaluasi tertinggi, kan? Kau tahu apa artinya itu, kan?”

Saat Hawkins-san mengatakan itu, Novem menempatkan uangnya di meja.

Di dalam kantung kulit kecil itu, adalah tiga koin emas.

Hawkins-san menerimanya, dan mengkonfirmasi isinya.

Karena jumlah yang kami bayarkan untuk request-nya cukup tinggi, imbalan tambahan yang harus kami tambahkan cukup banyak.

Dari tiga koin emas, satu akan diambil oleh guild.

“Konfirmasi selesai. Kalau begitu, tambahan imbalan sebesar dua emas akan diserahkan kepada Zelphy-san.”

Setelah menerima dua koin itu, Zelphy-san berdiri, dan berbalik untuk meninggalkan ruangan.

“Astaga, sungguh kerjaan yang merepotkan. Aku takkan melakukannya lagi, kau dengar.”

Sejak request darurat itu, dia mulai mengambil sikap kasar(TLnote: curt) saat berurusan dengan kami.

Tidak, sikap itu kebanyakan diarahkan pada Aria.

Melihat dia keluar dari ruangan, Hawkins-san bicara.

“Dia benar-benar tak bisa jujur, ya. Semuanya sudah lama mengetahuinya padahal.”

Novem setuju.

“Kalau kita tidak melakukannya seperti ini, dia tidak akan pernah menerima hadiah pernikahannya.”

Benar.

Kami semua tahu kenapa Zelphy-san bersikap seperti itu.

Itu tepat karena Aria tahu itu, dia merasa sangat kerumitan.

Zelphy-san pensiun sebagai petualang, dan menikahi seorang pria biasa.

Imbalan tambahan kami adalah juga sebagai hadiah untuknya.

Novem meletakkan tangannya di bahu Aria.

“Aria-san, aku rasa Zelphy-san masih di dekat sini. Pergilah bicara untuk terakhir kali dengannya.”

“T-tapi… dia bahka tak mau bicara denganku akhir-akhir ini.”

Selagi Aria menjadi cemberut, Novem menggelengkan kepalanya, dan mengulangi dengan tatapan tulus di matanya.

“Kalau kamu tidak pergi, kamu akan menyesalinya. Kita akan meninggalkan Dalien. Ada kemungkinan bahwa kalian tidak akan pernah bertemu lagi… pergilah padanya.”

Diberitahu Novem, yang menggunakan nada lebih kuat daripada biasanya, Aria meninggalkan ruangan.

Untuk berbicara dengan Zelphy-san.

Dan Hawkins-san meletakkan dokumen berbeda dari sebelumnya di atas meja.

“Ini formulir pergantian guild. Dan ini adalah kartu guild yang kami simpan. Jadi kalian benar-benar langsung pergi.”

Selagi dia membuat wajah kesepian, dia bercanda ringan tentang bagaimana petualang yang datang padanya akan berkurang sekali lagi.

Dengan salah satu atasan guild tidak ada, nama Hawkins-san diusulkan untuk mengisi lubang yang ditinggalkan. Aku tahu.

“Kami takkan tingal lama. Jika tidak, pada Zelphy-san dan Hawkins-san… dan bahkan Ventra-san, kami bisa saja membawa masalah.”

Fakta bahwa rumahku, Keluarga Walt belum menunjukkan pergerakan apapun sejauh ini sangatlah tidak wajar.

Fakta bahwa aku tidak tahu hal macam apa yang mereka akan lakukan untuk menyebabkan ketakutan.

Juga, Ventra-san… penguasa feudal Dalien, jika waktunya datang, adalah seseorang yang berkemungkinan untuk mempersembahkanku pada mereka. Aku takkan katakan itu adalah hal yang buruk.

Jika kau berpikir tentang melindungi wilayah, itu adalah tindakan yang alami.

Saat dibandingkan dengan wilayah Keluarga Walt, skalanya Dalien hanyalah secuil. Mereka berada di level pengaruh yang setara dengan ibukota kerajaan, Centralle.

“… Sepertinya kalian punya beberapa keadaan mengelilingi kalian, jadi aku tidak akan menggali terlalu dalam pada hal itu. Tapi itu akan bagus kalau kita bertemu lagi suatu hari.”

“Itu benar. Haekins-san, terima kasih untuk selama ini.”

Aku mengisi formulirnya.

Selagi aku menyerahkan formulir permintaan pergantian home(TLnote: di sini maksudnya seperti tempat pusat aktivitas) untukku, Novem, dan Aria, aku menerima dokumen dari guild. Itu adalah apa yang kami akan perlu serahkan di guild manapun yang akan kami jadikan basis operasi berikutnya.

Aku berdiri, dan Novem mengikuti.

Dan Novem juga memberikan terima kasihnya.

“Terima kasih atas bantuanmu. Aku harap kamu tetap sehat, Hawkins-san.”

Hawkins-san mengangguk.

Aku merasa mataku menjadi sedikti berlinang, jadi aku meninggalkan ruangan.

Pada akhirnya, aku mengetahui bahwa aku adalah seseorang yang cepat menangis.

Koridor di guild…

“Zelphy!”

Aria menemukan Zelphy, dan menghampirinya.

Zelphy dengan canggung menggaruk wajahnya, selagi dia memalingkan matanya.

“Apa? Aku akan pergi minum, kau tahu.”

Pada sikapnya, Aria tidak tahu apa yang dia sebaiknya katakan.

Tapi dia juga sudah bertekad untuk meninggalkan Dalien bersama Lyle.

Mereka sudah mengosongkan rumah, dan bahkan membeli tiket untuk kereta gandeng ke Centralle.

“… Terima kasih untuk semuanya, Zelphy. Aku lugu akan cara hidup di dunia ini, dan aku selalu hanya menyebabkan maslah bagimu… juga, aku bahkan tak pernah berusaha mengetahui perasaan macam apa yang kau lalui.”

Kata-katanya tidak keluar dengan benar.

Sosok dari Zelphy yang menggeledahi mayat seorang petualang, dan mengambil barang-barangnya untuk dirinya sendiri. Aria melihat itu dengan putus asa.

Tapi setelah itu, dia mendengar bahwa Zelphy mengunjungi rumah petualang tewas itu, dan menyerahkan barang-barangnya.

Dia mulai menyudutkan dirinya sendiri atas bagaimana dia berputus asa karena Zelphy, tanpa berpikir dua kali.

Apa yang Aria ingin katakan pada Zelphy adalah agar tidak mengkhawatirkan dia lagi.

“Aku baik-baik saja. Aku rasa aku akan mencari kebahagiaan dengan caraku sendiri, jadi… Zelphy, kau sebaiknya berbehagia juga.”

Aria menatap wajahnya.

Zelphy menangis.

“… Maafkan aku. Nona. Aku juga… Aku tak bisa lakukan apa-apa… Aku tak bisa lakukan apa-apa selain menyaksikan, dan…”

Selagi air mata Zelphy mulai mengalir, Aria memeluknya.

Dia memanggilnya seperti saat mereka bermain bersama di mansion.

“Terima kasih, kak… Aku akan baik-baik saja sekarang. Itulah kenapa kau sebaiknya juga menemukan kebahagiaan bagi dirimu sendiri.”

Zelphy membalas pelukannya.

Aria mengkonfirmasi banyak bekas luka yang menutupi tubuhnya.

Itu adalah bukti bahwa keluarga Zelphy telah melewati benyak masalah untuk hidup di Dalien setelah diusir dari manor.

Tapi bahkan meskipun mengalami itu, Zelphy mengambil tindakan demi kebaikannya…

Sebagai ganti untuk bekerjasama dengan penguasa feudal, Keluarga Lockwarde yang diasingkan dari Centralle menemukan suaka di Dalien.

Di tempat-tempat di mana dia tidak melihat, Zelphy harus melalui banyak rasa sakit…

“Zelphy, terima kasih untuk semuanya. Aku akan baik-baik saja sekarang.”

Aria tetap memeluk erat seseorang yang dia dulu kagumi sebagai kakaknya.

… Dia akhirnya bisa memberitahu kakaknya yang selalu melindunginya, bahwa dia akan baik-baik saja.

Saat aku menunggu di guild bersama Novem untuk kembalinya Aria, aku melihat kelompok bertiga yang membantu kami sebelumnya mendekat.

“Rondo-san!”

“Lyle-kun!”

Dari para petualang yang kami bisa bercakap-cakap kalau kami bertemu, kami tetap berhubungan baik dengan mereka.

Menggunakan logam langka yang ditemukan di labirin, Rondo-san mendapatkan sebuah belati.

Rahu-san menggunakannya untuk pembuatan sebuah tombak baru.

Rachel-san menggunakannya sebagai bagian dari tongkatnya.

Mereka bertiga semuanya memakai perlengkapan baru.

Rondo-san membuat belatinya dengan gagang dan pelindung dari pedang kebanggaannya, dan desain yang mirip pada sarungnya. Saat dia pertama kali menunjukkannya padaku, aku ingat betapa dia tampak gembira.

“Apa kalian menyelesaikan paperwork-nya juga?”

Saat aku mengatakan itu, Rahu-san tersenyum masam.

“Kami datang ke sini lebih awal daripada kelompok kalian, tapi kami tertahan untuk waktu yang cukup lama. Para petualang yang punya cukup kekuatan perlahan-lahan mengalir keluar dari Dalien.”

Itu juga adalah karakteristik kota ini.

Baik pada pendatang baru, dan dengan banyak kerja sampingan untuk mencari pendapatan. Itulah Dalien.

Di sisi lain, itu sulit bagi petualang yang bukan newbie untuk menemukan pekerjaan yang sesuai.

Karena guild Dalien masih ingin untuk mengamankan para petualang ahli bagi diri mereka sendiri, itu adalah masalah yang menyebabkan banyak sakit kepala.

“Apa kalian berangkat sekarang? Di mana Aria-chan? … Ah, mungkinkah dia kabur?”

Seperti biasa, Rachel-san mengatakan langsung apapun yang ada di pikirannya.

Aku menggelengkan kepalaku.

“Sayangnya, dia tidak kabur. Dia ada urusan lain, jadi kami menunggunya. Lebih penting lagi, apa kalian yakin kalian akan tepat waktu untuk waktu keberangkatan kereta kalian?”

Di sana, Rondo-san ingat, dan mengeluarkan suaranya dengan cukup keras.

“Sepertinya kita tak punya waktu untuk berbincang-bincang di sini.”

Rahu-san mulai panik.

“Ah, benar! Kalau begitu aku rasa kami akan pergi. Berikan salam kami pada Aria-chan.”

Rachel-san memanggil Novem.

“Novem, urusi Lyle. Dia tak bisa diandalkan kalau sendirian.”

Novem tertawa, dan mengangguk.

“Terima kasih banyak. Jaga dirimu juga, Rachel-san.”

Dan Rondo-san melambaikan tangannya padaku selagi dia bicara.

“Kalau kita bisa bertemu lagi, kita meriahkan itu. Lyle-kun… sampai bertemu lagi!”

Selagi dia membuat keberangkatan yang menyegarkan, aku juga melambaikan tanganku.

“Ya. Sampai bertemu lagi!”

Mereka bertiga meninggalkan guild.

Novem menggumam.

“Mereka orang-orang yang cukup baik, Lyle-sama.”

“Benar. Aku ingin bertemu mereka lagi lain kali. Untuk waktu saat kita bertemu lagi, aku harus menjadi seorang petualang yang lebih baik.”

Selagi dengan gembira mempertimbangkan pertemuan kami selanjutnya, aku dan Novem melanjutkan menunggu Aria.

… Itu terjadi di suatu tempat di jalan utama.

Tertutupi darah, Rondo, Rahu, dan Rachel tergeletak di jalan.

Pedang kebanggan Rondo hancur, dan belatinya diambil darinya.

Tanpa satupun lengannya, dia nyaris tak bernafas di permukaan tanah.

Tapi Rahu dan Rachel sudah menghembuskan nafas terakhir mereka.

“A-ap-apa-apaan… monster itu.”

Itu adalah monster yang behkan menyakitkan untuk diingat. Tapi itu bukanlah semacam binatang buas.

… itu adalah manusia.

Apa lagi, seorang gadis muda.

Merangkak di atas tanah, dia melihat Rachel.

Sebuah lubang terbuka di dadanya, dan mata hampanya terdapat bekas-bekas air mata yang tertumpahkan.

Melihat Rahu, dia berusaha untuk membiarkan yang lainnya kabur dengan berdiri di depan, jadi lukanya yang terburuk.

Saat dia mendekatinya, dia mengambil salah satu bagian ringan darinya… yaitu rambut dengan mulutnya, dan membawanya jauh-jauh ke Rachel.

Kemanapun dia merangkak, darah Rondo menodai permukaan tanah.

Skil pedangnya tidak bisa melakukan sedikitpun.

Dari semua hal, sekelompok bertiga, semua dengan Alat Sihir, tidak bisa untuk bahkan menyentuh seorang gadis kecil.

Penyebabnya datang saat mereka telah mencapai tujuan mereka dengan kereta, dan akan pergi ke kota yang mereka putuskan sebagai home mereka dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan, itu terjadi.

Sebuah kereta mewah berhenti dekat mereka.

Itu jelas kereta yang digunakan oleh bangsawan, dan dari kelihatannya, bukan bangsawan biasa apa lagi.

“Rachel… Rahu… kita akn selalu bersama.”

Menuju ke cangkang kosong Rachel, dia melepaskan rambut Rahu, dan membiarkannya jatuh di atasnya.

Saat mereka semua baru saja menjadi petualang, mereka bertemu, menjadi akrab, dan mereka bertiga berusaha yang terbaik bersama-sama untuk beberapa tahun. Mereka telah mulai membangun kekuatan, dan mereka bahkan memperoleh Alat Sihr yang mereka sangat dambakan.

Mereka semua berpikir tentang masa depan… tapi monster itu mengincar mereka.

Kata-kata yang gadis mosnter itu katakan, cukup tak bisa dipercaya.

“Kau, jadilah milikku. Aku tidak butuh pria tombak itu, atau wanita di sana itu. Pergi enyahlah ke suatu tempat.”

Itu adalah omong kosong dari seorang gadis bangsawan yang menyukai Rondo.

Dia memikirkan itu, tapi reaksi yang lainnya berbeda.

Orang tua gadis itu, yang menumpangi kereta yang sama, murka padanya karena tidak memperdulikan permintaan gadis itu.

Itu karena Rondo menolak atas dasar sudah punya seorang pacar terbaik yaitu Rachel.

Dan para pengawal yang mengiringi kereta juga mengangkat senjata mereka.

Kalau hanya itu, maka mereka bisa melewatinya, dia pikir.

Dia percaya diri dengan kemampuannya. Dan dia bahkan memiliki Alat Sihir.

“Monster… itu.”

Tapi gadis itu pertama menuju ke belakang Rachel, dan langsung menembakkan sihir. Itu terjadi dalam sekejap.

Apa yang Rachel katakan sambil meneteskan air matanya, adalah nama Rondo.

Dengan marah. Rondo dan Rahu berkata bahwa itu adah tindakan yang tidak bisa dimaafkan, meskipun dia adalah seorang bangsawan, dan menghunus senjata mereka.

Tapi di saat senjata mereka dihunus, lengan Rondo melayang, dan senjata kebanggaanya pecah.

Pedang yang bahkan dia sebut rekannya tercabik-cabik seakan itu adalah secarik kertas.

Belatinya berada di tangan gadis itu. Meskipun itu melayang di udara dengan lengannya, gadis itu menggengamnya, dan dia bahkan memegang sarung belati yang sebelumnya menggantung di pinggangnya.

Dia tak bisa memahami apa yang baru saja terjadi.

Dan Rahu berdiri di depan, dan berteriak agar dia lari bersama Rachel.

Tapi Rahu tertutupi oleh darahnya sendiri dengan segera.

Seakan dia telah kehilangan ketertarikan, gadis itu pergi. Bahkan sekarang, Rondo bisa mengingat kata-kata yang dia dengar saat itu.

“Astaga, untuk menyia-nyiakan niat baik Celes seperti itu.”

“Celes, pakaian yang kami akhirnya beli untukmu ada noda darah! Astaga… kita akan ke sebuah pesta, kau tahu. Meskipun kau ganti saat kita sampai sana, kau harus lebih memperhatikan penampilanmu. Sayang, kita harus menyiapkan pakaiannya Celes.”

Pria dan wanita yang tampaknya orang tua gadis itu tidak memperdulikan mereka sama sekali.

Mereke meributkan noda kecil yang terdapat pada pakaiannya.

“Pakaiannya Celes? Seakan-akan aku akan biarkan dia mengenakan pakaian yang orang-orang kurang ajar itu siapkan baginya! Dia adalah harta karun Keluarga Walt, kau tahu.”

Gadis bernama Celes itu, meskipun baru saja menggunakan pedang dan sihirnya untuk membunuh dua orang dengan kejam, tersenyum.

“Ayah, ada waktu saat aku ingin mencoba memilih jenis pakaian yang berbeda. Aku sedang mood untuk belanja, jadi maukah kau memaafkannya?”

Mendengar suara manisnya, orang tuanya tampak puas.

Mereka adalah orang tua yang memanjakan putri manis mereka… tapi scene itu entah bagaimana tampak ganjil.

Rondo menyadari bahwa keluarga gadis itu tidak benar-benar melihat apa yang di sekeliling mereka sama sekali.

Tidak ada satu hal pun yang memasuki mata mereka disamping putri manis mereka.

Para bangsawan itu, yang datang dengan tiba-tiba, pergi ke suatu tempat juga dengan tiba-tiba.

Rondo mengumpulkan semua temannya yang tumbang di astu tempat, dan seakan dia penuh dengan kepuasan, dia kehilangan semua tenaganya.

Pada akhirnya, dia berbisik.

“… Aku rasa aku tak bisa menepati janjiku.”

Dan dengan diam, Rondo menutup matanya…

Menumpangi kereta gandeng, kami tiba di Centralle.

Itu adalah kedua kalinya kami datang, tapi tujuan kami kali ini adalah untuk melakukan perbelanjaan.

Jumlah sabre yang bisa kudapatkan di Dalien rendah, dan ada juga perlunya bagi kami untuk memutuskan tempat berikutnya yang akan kami jadikan home kami.

Kalau itu dari Centralle, perjalanan akan cukup mudah, jadi kami mampir di sana terlebih dahulu.

“Kalau begitu, kita sudah sampai, tapi kita cari penginapan untuk saat ini.”

Novem memberi jawaban.

“Mungkin itu tidak akan buruk kalau kita menghabiskan beberapa hari di sini. Hanya saja kita tidak akan bisa tinggal di sini cukup lama untuk menjadikannya home kita.”

Centralle dingin pada para petualang.

Tidak, daripada itu, Centralle tidak benar-benar membutuhkan mereka.

Kalau monster muncul, ksatria dan prajurit yang akan dengan segera dikerahkan.

Kerja sampingan diperebutkan oleh populasi umum yang tinggi. Tidak seperti Dalien, itu bukanlah tempat yang cocok untuk petualang bersemayam.

Tapi itu adalah pusat negara, itu adalah metropolis di mana barang dan informasi berkumpul.

Aria menunjukkan ekspresi rumit.

“Setelah diusir, aku ragu aku akan bisa melakukan pekerjaan petualang di sini. Kalau kita tinggal untuk beberapa waktu, aku akan baik-baik saja, tapi aku akan harus menolak kalau menetap.”

Putri dari Keluarga Lockwarde yang terusir dari Centralle, Aria, tak bisa membiarkan dirinya sendiri untuk menetap di kota ini.

“Kita di sini untuk belanja, dan mengumpulkan informasi. Setelah kita mendapatkan semua yang kita butuhkan, kita akan pergi.”

Kami memang memiliki kebanyakan apa yang kami butuhkan.

Meskiupun kami memang punya senjata, aku ingin punya senjata yang tidak menghisap Mana-ku.

Saat itu diperlukan, aku bisa mengubah Jewel menjadi pedang besar, tapi kalau itu saja yang aku punya, aku akan berada dalam situasi yang cukup buruk.

“Lyle-sama, apa kamu akan bekeliling ke toko senjata?”

Novem bertanya, dan aku menjawab.

“Aku akan juga pergi ke toko armor. Aku juga ingin mampir ke toko buku.”

Toko buku adalah permintaan para leluhur.

Aku menyentuh Jewel.

Alasan itu jauh lebih sunyi daripada sebelumnya adalah karena Generasi Pertama sudah pergi.

Dia selalu yang berisik.

“Kalau begitu, kita lihat-lihat ke toko sekitar. Aria-san, apa ada toko terkenal d sekitar sini? Senjata, armor, atau bahkan buku… kalau ada suatu tempat berguna yang kamu tahu, aku ingin tanya.”

Novem bertanya apakah ada suatu tempat yang dia tahu.

Dan Aria mulai mendaftarkan nama dari beberapa toko yang dia pernah dengar.

“Karena itu Centralle, ada cukup banyak pandai besi yang ahli untuk armor dan senjata. Tapi harganya… Kalau buku, aku tahu tempat dengaan pemilihan bagus. Ada juga perpustakaan, tapi saat ini…”

Mendengar tentang perpustakaan, aku berpikir sejenak.

(Kalau kami punya waktu, aku ingin tinggal untuk sebentar, tapi aku sebaiknya tidak benar-benar terlalu lama.)

Centralle adalah tempat yang akan menguras dompet seseorang.

Mereka punya segalanya, tapi untuk mengimbanginya, harga-harga yang dipasang untuk segalanya itu luar biasa tinggi. Biaya hidup juga tinggi.

Saat aku mengkhawatirkan itu, Novem memberikan beberapa saran.

“Kalau itu perpustakaan, maka 【Arumsaas】 dikatakan sebagai yang terbaik di dunia. Maksudku, itu terkenal sebagai kota pelajar(TLnote: scholars).”

Aria juga mengangguk.

“Aku tahu itu. Aku percaya itu adalah kota yang mengumpulkan pemuda berbakat dari seluruh daratan, bukan? Tapi di sana juga tak ada penguasa feudal. Aku rasa… para pelajar kota mengirimkan perwakilan yang memutuskan berbagai hal. Mungkin dengan cara yang sama dengan Beim?”

Sebagai kota bebas, Beim dikelola oleh saudagar.

Karena tidak ada penguasa feudal, itu cukup mudah untuk petualang tinggal.

“Arumsaas atau Beim… bagaimanapun juga, kita sebaiknya putuskan setelah mengumpulkan beberapa intel.”

Mengatakan itu, aku mengangkat barang bawaan, selagi aku mulai berjalan untuk mencari penginapan kami akan bermalam.

“Hei, aku bisa paling tidak membawa punyaku sendiri.”

Aria dengan kalut(TLnote: frantically) mencoba merebut kembali tasnya, tapi aku menolak, dan berjalan di depan.

“Jangan pikirkan itu, dan kita pergi. Novem, berhentilah tertawa, dan cepatlah.”

“Baik, maafkan aku, Lyle-sama.”

Aku mendesak Novem, yang mulai tersenyum karena pertukaranku dengan Aria, dan berjalan di jalanan ibukota.

Saat aku mengingat jalanan dari masa lalu yang aku tapaki dengan Generasi Pertama, aku melihat beberapa jejak yang tetap ada.

Tapi tidak seperti sebelumnya, itu telah menjadi cukup rapi.

“Itu sungguh berubah di sini.”

Saat aku menggumamkan itu, Aria memiringkan kepalanya.

“Hm? Kau pernah datang ke sini sebelumnya? Dan tunggu, aku tak berpikir area ini telah berubah terlalu banyak. Lyle, apa kau tidak apa-apa?”

Aria mengarahkan tatapan tidak yakin padaku, dan aku tersenyum masam.

“Yeah, aku rasa itu sudah sekitar dua ratus tahun.”

Saat aku mengatakan itu, dia mulai menatapku dengan tajam.

“Bercanda. Ini kedua kaliku di sini. Terakhir kali, kami hanya mempir dalam perjalan kami ke Dalien… itu saja.”

Langitnya, sama seperti saat aku berjalan di jalanan ini bersama Generasi Pertama, cerah, dan biru.

===


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s