Re:X Alta – Chapter 5

Di saat kami sedang makan siang dengan tenang, aku mendengar keramaian di koridor di luar kelas.

Kemudian aku melihat beberapa siswa laki-laki memasuki ruang kelas.

Salah satu dari mereka melihat ke sekeliling ruangan seperti mencari seseorang.

(Hm? Siapa mereka? Sepertinya mereka mencari seseorang?)

Kemudian seorang siswa yang berada di paling depan berjalan melewati beberapa baris bangku di kelas dan berhenti, tepatnya di bangku tempatku, Fiona, dan Rosetta berada.

Seorang dari mereka yang berada di paling depan kemudian mengarahkan tatapannya ke arah kami berada.

(Hm? Kenapa orang itu melihat ke arah kami, tidak, kenapa dia menatapku?)

Setelah seorang dari mereka yang berada di paling depan menemukanku, mereka lalu berjalan menghampiri kami tanpa memperdulikan suasana yang mereka sebabkan.

“Apa kamu anak pindahan yang bernama Aruta Kurosui?”

“Hm? Yeah. Kalian siapa?”

Orang yang paling depan dari mereka bertanya padaku dengan halus. Dia adalah seorang laki-laki berwajah tampan dengan sepasang mata berwarna hijau, berambut pirang, dan mengenakan seragam akademi yang sama dengan siswa laki-laki lainnya tapi dia mengenakan dasi berwarna abu-abu.

Ketiga orang yang bersama dengannya juga mengenakan dasi dengan warna yang sama.

(Hmm…, senpai[1], ya?)

Di akademi ini tingkatan kelas dari para murid dibedakan dengan warna dasi yang mereka kenakan.

Di akademi, tingkatan kelas dibedakan menjadi tiga, yaitu Pemula atau Tingkat Pertama, Menengah atau Tingkat Kedua, dan Lanjutan atau Tingkat Ketiga.

Para siswa Tingkat Pertama akan mengenakan dasi berwarna hitam, Tingkat Kedua dasi berwarna abu-abu, dan Tingkat Ketiga mengenakan dasi berwarna putih.

(Kenapa senpai ini mencariku? Haah…, aku harap ini bukan sesuatu yang merepotkan.)

“Maaf, jika kami mengganggu makan siangmu. Namaku Sebastian Lefalcon, senang bertemu denganmu.”

“Kurosui Aruta.”

“Hmm… tidakkah itu terlalu dingin untuk sebuah perkenalan?”

“Yah, terserah. Lalu, apa kau ada urusan denganku, senpai?”

“Tidak. Aku hanya berpikir untuk memberi sapa pada murid pindahan di akademi ini.”

“Lalu? Tidak mungkin seorang murid tingkat kedua akan jauh-jauh datang ruang kelas murid tingkat satu hanya untuk menyapa seorang murid pindahan, bukan?”

“Itu benar. Aku memang ke sini karena ada keperluan dengan seseorang, namun itu tidak denganmu Kurosui-kun. Aku ke sini karena ada urusan dengan Fiona.”

“Fiona?”

Aku menoleh ke arah Fiona yang duduk di sebelah kananku dan kemudian bertanya padanya.

“Apa kalian saling kenal?”

“Ya, semacam itu.”

Fiona menjawab pertanyaanku dengan ekspresi seakan tak peduli dengan orang yang dipertanyakan.

“Oh…, ayolah Fiona, kenapa kamu bersikap seperti itu, bukankah kita saling bertunangan?”

“Tu-tunangan!?”

Aku terkejut setelah mendengar pernyataan Lefalcon-senpai dan sekali lagi menoleh ke arah Fiona, tapi Fiona masih saja memasang ekspresi masam dan bersikap acuh.

“Lalu? Ada perlu apa anda mencariku Lefalcon-sama?”

“Jangan begitu, Fiona. Bukankah aku sudah sering memintamu untuk tidak perlu bersikap terlalu santun terhadapku. Lagipula kita bertunangan, jadi akan aneh jika kamu bersikap seakan menjauhkan diri dariku. Panggil saja aku Sebastian.”

“Lalu? Apa keperluanmu denganku Lefalcon-sama?”

“Kau mengabaikannya, ya? Yah…, itu tidak masalah untuk saat ini. Fiona, maukah kamu makan malam denganku malam ini?”

“Tidak mau.”

“Langsung ditolak, ya?”

“Bisakah anda berhenti menggangguku? Lagipula pertunangan ini adalah sesuatu yang secara sepihak ditentukan oleh keluarga dan orang tua kita tanpa persetujuan dan sepengetahuan kita sendiri sebelum mereka memutuskan untuk menjodohkan kita, jadi aku tidak dapat menerimanya. Lagipula anda juga sebenarnya tidak ingin dijodohkan dengan seseorang sepertiku yang bahkan sebelumnya tidak pernah kenal dan temui, bukan?”

“Tidak juga. Aku menyetujui pertunangan diantara kita dan aku juga menerima sepenuhnya keputusan itu walaupun memang benar ini adalah keputusan sepihak dan aku juga bahkan tidak mengenal dan belum pernah bertemu dengan calon tunanganku sebelum perjodohan ini diputuskan.”

“….”

Fiona terdiam mendendengar pernyataan yang dilontarkan oleh Lefalcon-senpai seakan itu adalah sesuatu yang tidak luar biasa.

“Jadi…, kamu tetap tidak akan mengubah keputusanmu apapun yang terjadi?”

“Tidak dan tidak akan pernah.”

“Hmm…, termasuk undangan untuk makan malam denganku?”

“Saya tidak akan makan malam dengan anda. Bisakah anda segera keluar dan tidak menganggu makan siang kami!?”

Fiona menolak dan mencoba untuk mengusir Lefalcon-senpai dengan nada datar namun tegas seakan dia sudah muak dengan Lefalcon-senpai yang terus-terusan menganggunya.

“Kau nggak tau diuntung, ya!? Kau itu cuma cewek rendahan, harusnya kau terima ajakannya Sebastian, dasar cewek goblok.”

Salah satu dari senpai yang berada di belakang Lefalcon-senpai melontarkan kalimat yang melecehkan ke arah Fiona.

Mendengar hal itu, Fiona hanya tetap diam dan menoleh sekilas dengan ekspresi marah pada senpai yang mengatakan perkataan buruk padanya dan kemudian kembali bersikap seakan tak memperdulikannya.

Mendengar perkataan dari senpai itu,  aku merasa naik darah tapi karena Fiona berusaha untuk tak memperdulikannya, aku juga berusaha untuk menahan amarahku.

Sementara itu, Rosetta gelisah dengan tindakannya yang sesekali melirik ke arah Fiona tapi juga tidak ingin ikut campur karena takut membuat masalah akan menjadi semakin rumit.

“Sebastian itu udah kaya, ganteng, keren lagi. Cewek manapaun bakal mau ama Sebastian, tapi kau yang cuma cewek rendahan malah nolak Sebastian.”

“Tidak, tidak. Tidak perlu terlalu berlebihan dalam memujiku, Mark.”

Senpai yang dipanggil Mark oleh Lefalcon-senpai adalah laki-laki dengan rambut cokelat gelap dengan telinga kiri bertindik dan cara berpakaian yang tidak beraturan, dia seperti seorang preman atau berandalan yang biasa aku temui sebelum aku memasuki akademi ini.

Ditambahkan dengan cara bicara yang tidak halus itu semakin membuatnya tampak seperti preman atau berandalan.

Mungkin karena di akademi ini cukup bebas dalam gaya berpakaian dan penampilan selama para siswa memakai seragam lengkap dan mengikuti moral, penampilan dari senpai tidak begitu dipermasalahkan oleh siswa lain yang melihatnya.

“Udah kita pergi aja, Sebastian! Ngapain juga kau ngajakin cewek jalang ini. Lagian juga, masih banyak cewek lain yang mendingan dibandingin jalang rendahan ini yang ngantri dan ngimpi kau ajak jalan.”

“Bener, deh.”

“Ya, ya, itu benar.”

“Udah lah, nggak usah lagi ngurusin tuh jalang pelacur rendahan itu. Yok pergi aja, Sebastian!”

Dia pun berbalik berjalan ke arah pintu keluar diikuti oleh dua temannya meninggalkan Lefalcon-senpai.

Lefalcon-senpai hanya menengok sekali kepada Fiona dan kemudian mulai mengikuti ketiga teman menunggunya di depan pintu yang terbuka.

Di saat mereka akan mulai melangkahkan kaki ke luar kelas…

“Tunggu, Lefalcon-senpai!”

Aku secara spontan berdiri dari bangku dan memanggil Lefalcon-senpai dengan agak berteriak.

Lefalcon-senpai dan teman-temannya pun berhenti dan menoleh ke arahku.

Sepertinya, karena aku memanggil dengan suara yang cukup keras, semua orang di kelas pun memusatkan perhatian mereka padaku.

“Hm? Ada apa Kurosui-kun?”

“Aku hanya ingin meminta satu hal pada temanmu yang itu sebelum kalian pergi.”

Aku berbicara pada Lefalcon-senpai sambil menunjuk ke Mark-senpai.

Senpai yang kutunjuk langsung menoleh dan berjalan ke arahku dengan ekspresi marah.

“Haahh!? Mau apa kau!?”

 “Aku ingin senpai meminta maaf pada Fiona sebelum pergi.”

Fiona yang namanya kusebut menoleh ke arahku dengan wajah terkejut kemudian berdiri akan mengatakan sesuatu padaku namun aku menghentikannya dengan tangan kananku.

“Haaaahhh!? Minta maaf kau bilang!? Emangnya aku salah apa ke cewek itu, hah!?”

“Senpai tidak mengetahui kesalahan yang kau lakukan sendiri sendiri? Apa kau tidak pandai dalam mengingat sesuatu?”

“Haaahhh!? Berani banget kau ngatain aku, hah!? Trus, emangnya aku salah apa ke dia!?”

“Senpai, bukankah tadi kau melecehkan Fiona dengan kata-katamu? Aku tak bisa memaafkannya.”

“Haaaahhhhh!? Apa kau goblok!? Dia itu emang cewek jalang. Ngapain aku musti minta maaf ama tu pelacur sialan.”

“Senpai, tolong berhentilah menyebut Fiona dengan kata-kata seperti itu. Walaupun kau hanya bercanda aku takkan membiarkannya begitu saja sebelum kau meminta maaf.”

“Hah! Emangnya kau mau apa kalo aku gak mau minta maaf!?”

“Aku akan memaksamu.”

“Hah? Apa kau bilang?”

“Aku akan memaksamu untuk meminta maaf.”

“Haaaaaaahhhhh!? Kau menantangku? Emangnya kau bisa apa? Kau nggak tau apa siapa aku?”

“Aku tak tahu dan itu tidak penting bagiku, yang penting adalah aku akan dengan paksa membuatmu mengatakan kata “Maaf” meskipun aku takkan memaafkanmu dan aku juga tak tahu Fiona akan memaafkanmu atau tidak.”

“Jangan sombong kau! Kalo gitu  kutunggu kau di lapangan entar sore. Aku bakalan bikin kau nyesel berani ngelawan Mark Harrington-sama!”

“Baiklah.”

Setelah itu, Harrington-senpai pergi meninggalkan kelas dengan langkah cepat yang kemudian diikuti oleh kedua temannya beserta Lefalcon-senpai yang menyusul kemudian.


  • [1] Senpai: Senior/ Kakak tingkat/kelas
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s